Mari Belajar dari Polisi Tradisional Bali

Pecalang.
Sumber :
  • U-Report

Menjadi pecalang adalah suatu pengabdian kepada masyarakat. Mereka tidak mendapatkan gaji. Tapi sebagai kompensasi mereka dibebaskan dari segala hal yang berkaitan dengan kewajiban warga. "Ini kehormatan tersendiri bagi kami menjadi pecalang," ujar salah satu pecalang yang enggan disebutkan namanya. Mereka tidak kena iuran di Banjar, tidak wajib ikut gotong royong dan lain-lain. Tapi konsekuensinya, mereka harus siap jika sewaktu-waktu harus bertugas kalau ada kegiatan adat di desa setempat.

Menjadi pecalang sangatlah tidak mudah. Di mana harus melalui seleksi kepala desa atau masyarakat cukup memperhatikan pemuda yang kira-kira memiliki mental yang baik dan mampu melayani masyarakat. Sehingga pecalang dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat sekitar, dan mampu berkomunikasi dengan baik dan ramah kepada masyarakat lain. Dan secara tidak langsung kita mempertahankan kesan masyarakat Bali yang ramah di tingkat internasional.

Lalu bagaimana dengan lain? Misalnya Kota Makassar yang akhir-akhir ini ramai kabar bahwa tidak aman karena banyaknya aksi kriminalitas dari sekelompok oknum begal motor. Mungkin saja jika di Kota Makassar dibentuk polisi tradisional maka aksi-aksi geng motor yang meresahkan masyarakat tersebut akan hilang. Ini mungkin bisa dijadikan pelajaran. Sebab, hingga saat ini kepolisian daerah (Polda) Sulselbar dan Polrestabes Kota Makassar belum mampu membasmi begal motor yang meresahkan masyarakat tersebut. (Tulisan ini dikirim oleh nirwandessibali)