Bende Beca Bertalu Tanda Akan Ada Peristiwa Besar
Sunan Bonang adalah salah satu wali dari sembilan Wali Songo di zaman para wali penyebar Islam di Nusantara enam abad silam. Beliau Waliyullah sakti mandraguna, yang juga guru Sunan Kalijaga. Satu dari empat soko guru Masjid Agung Wali Demak di Demak, dibuat oleh Sunan Bonang.
Dikisahkan, para wali tinggal terpencar di Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban (Sunan Bonang), Kudus, Demak (Pusat Islam), sampai Cirebon. Untuk mengumpulkan para wali di Demak guna melakukan rapat, Sunan Bonang memukul Bende Beca, dan didengar para wali dari tempat masing-masing.
Sepeninggal Sunan Bonang, pusaka Bende Beca yang berdiameter 10 cm dan pemukulnya, disimpan dan dirawat juru kunci. Setiap tahun, bersamaan dengan Hari Raya Idul Adha, di rumah juru kunci H Abdul Wakhid diadakan tradisi penjamasan (pensucian/pencucian) pusaka Bende Beca. Ribuan orang dari berbagai daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan ada pula dari Jakarta, sengaja datang melihat penjamasan Bende Beca.
Usai penjamasan, orang-orang mendekat dan berebut untuk mendapatkan air dan bunga setaman bekas dipakai mencuci Bende Beca. Konon air dan bunga setaman itu amat bertuah untuk berbagai hal. Misalnya untuk menyembuhkan segala penyakit menahun/berat. Bisa menyuburkan sawah ladang. Jika untuk mandi, bisa membuat awet muda dan tampan atau ayu. Bunga rampai malah dipercaya bisa mendatangkan rezeki.
Entah mengapa tradisi penjamasan pusaka Bende Beca, salah satu andalan obyek wisata Pemkab Rembang, beberapa tahun ini menyusut pengunjungnya. Mungkin publikasinya kurang gencar dan meluas. Atau karena acaranya yang monoton dari tahun ke tahun seperti itu. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)