Aku Rindu Dirimu

Wanita hebat dan laki-laki super dalam hidupku.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Ketika semua terlelap dalam waktu dan terbawa oleh kesendirian, hanya sebuah kenangan yang selalu tetap ada di benak ini. Aku teringat dengannya, seorang laki-laki hebat yang kusebut ayah. Aku rindu dirimu ayah. Usiaku saat ini 20 tahun. Tidak mudah rasanya aku menjalani waktu sepanjang ini.

Aku lahir dari seorang wanita super yang kusebut mama, namanya Susi Widyastuti. Dan seorang ayah terhebat dari Tuhan untukku, Eddy Dimjati. Namun ternyata takdir tidak membuat kami terus bersama hingga akhirnya dia meninggalkan aku dan mama.

Aku bertemu ayah untuk terakhir kalinya ketika aku menginjak kelas 6 SD. Semua kenangan manis rasanya tetap melekat di pikiran ini. Meskipun hal tersebut sudah terlampau jauh meninggalkanku. Tak pernah saya lupakan bagaimana ayah memelukku dengan erat. Memanjakanku dengan semua hal yang dia lakukan untukku.

Mungkin tidak semua anak dapat menahan tangisannya ketika teringat bagaimana kebahagiaan hanya menjadi sebuah kenangan. Jujur saja, tak jarang air mata ini jatuh ketika aku mengingatnya. Caranya tertawa seakan menjadi pisau tajam ketika ingatanku mulai memutar kembali tentangnya. Aku rindu padamu ayah. Mengapa kau tinggalkan gadis kecilmu dulu sangat cepat? Apakah kau selalu menyayangiku hingga saat ini, seperti aku menyayangimu?

Kini aku telah dewasa. Namun aku tak ingin ini terjadi, jika aku tahu bahwa kau akan meninggalkanku sendiri. Terkadang air mata ini selalu jatuh ketika aku melihat seorang anak dapat mencium tangan ayahnya dengan cinta. Dapat berbagi rasa suka dan duka dengan ayahnya. Sementara diriku? Bermimpi untuk itu saja sulit.

Bolehkah ayah, jika aku meminta kau ulangi lagi saat itu? Ketika kecilku dulu, kau datang ke sekolahku menjemputku dengan penuh senyuman. Atau ketika kau tertawa kecil saat aku terjatuh karena kenakalanku? Aku rindu padamu ayah.

Ayah pernah satu waktu kau berkata, “Dek, nanti kalau sudah besar jangan lupa ayah dan mama ya. Jangan tempatkan ayah sama mama di panti jompo. Nanti kamu sibuk kerja kita berdua sampai berdebu tidak ditengokin.” Aku ingat ketika itu aku hanya tertawa lugu tak mengerti arti perkataannya.