Kenangan Tentang Masa Lalu yang Murung
- U-Report
“Ayah sekarang tinggal di Palembang. Mereka jarang menghubungiku, hanya saat mereka butuh saja,” katanya. Keluarganya terpecah. Dan hanya dia yang sendirian. “Kakak perempuan kandungku tinggal bersama bude di Banyuwangi. Aku punya tiga kakak tiri dari ibu tiri yang pertama, lalu dua adik kakak tiri dari ibu tiri yang kedua. Ibu kandungku punya satu anak dengan suami barunya, sementara suami barunya adalah duda beranak dua. Aku merasa istimewa menjadi satu-satunya anak laki-laki dari keluarga yang memusingkan ini. Karena aku berbeda,” jelasnya.
“Bapak senang menyendiri. Kupikir mungkin ia hanya menyadari sesuatu. Anaknya banyak, tapi tidak bisa membahagiakan semuanya. Sementara aku anak satu-satunya laki-laki yang ia punya. Aku merasa istimewa sekaligus berat,” lanjutnya. Ia senang menulis dan bercita-cita menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Mimpinya besar, dan usahanya pun besar untuk mewujudkannya.
Tulisannya berbau kesedihan dan kemurungan. Mungkin orang-orang yang kesepian dan digantung kesedihan sepertinya lebih mudah untuk menuliskan cerita yang melankolis. Tetapi ia adalah orang yang kuat. Sebab meski sakit berkali-kali ia tetap bertahan dan tidak bunuh diri. “Pertama kali aku tahu, itu sangat sakit. Tapi seiring berjalannya waktu, semua jadi biasa saja,” katanya.
Untuk pertama kalinya, di pertengahan tahun 2016, setelah belasan tahun berlalu dengan murung, ia dapat bertemu dengan ibu kandungnya sendiri. Angin yang berbolak-balik melewati tubuh mereka masing-masing menjadi saksi. Dan semua terjadi di Kota Bandung. Begitu puitis, dengan hening, dan ingatan yang tak pernah pergi. Ia senang bercampur sedih karena bisa menatap wajah ibunya, sebelum akhirnya ibu pergi meninggalkannya kembali.
“Meski memang sudah lama, tapi kenangan tak pernah tua,” katanya. Serumit apa pun hidup yang dijalaninya tak pernah sedikitpun ia membenci kedua orangtuanya. Ia hanya berharap kelak ketika ia punya keluarga, anak-anaknya tak boleh bernasib sama dengan dia. Semua harus bahagia, hingga tak merasa hidup sendirian. (Tulisan ini dikirim oleh Jihan Suweleh, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Nasional, Jakarta)