Perjuangan Ayah untuk Anak-anaknya

Bapak Djunet, Ayahku.
Sumber :

VIVA.co.id – Pria kelahiran 10 Juni 1959 silam ini bernama Djunani dan sering disapa Bapak Djunet. Kehidupan yang begitu sulit harus dialami oleh Bapak Djunet. Walaupun sekarang badannya sering mengalami pegal-pegal pada tangan kanannya, tetapi dia tetap berjuang demi masa depan anak-anaknya.

Bapak Djunani lahir di Solo dan bertempat tinggal di Kampung Makasar, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Sekarang, nama Bapak Djunet tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat Kampung Makasar dan sekitarnya. Dia dulu bekerja sebagai anak buah untuk mengerjakan ducting kitchen. Alhamdulillah, sekarang Bapak Djunet sudah bisa berdiri sendiri dan memilik cukup anak buah.

Bapak Djunet mempunyai tiga orang anak, yaitu Dewi, Rio dan Adit. Ketiganya merupakan mahasiswa di Universitas Nasional. Bapak Djunet menginginkan anak-anaknya sukses dan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Saat ini Bapak Djunet berstatus sebagai Ketua RT. Dia terus berusaha dan terus bekerja. Dia bekerja bukan untuk diri sendiri melainkan untuk anak-anaknya.

Walaupun kondisinya saat ini semakin tua, tetapi dia tetap tegar dan terus berjuang. Walaupun banyak rintangan yang menghalanginya, dia tetap semangat. Bapak Djunet hanya menyuruh anak-anaknya belajar dan terus belajar. Ia tidak ingin melihat anak-anaknya hanya bermalas-malasan. Bapak Djunet selalu memegang janjinya dan tetap pada pendirian sendiri. Walaupun ada orang lain yang mematahkan semangatnya, tetapi ia menganggap itu sebagai motivasi untuk terus bekerja.

Ia sangat sedih ketika melihat anak-anaknya nakal ataupun malas. Itu semua karena ia sangat mencintai anak-anaknya dan menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang terpandang di kemudian hari. Karena baginya, anak merupakan harta yang paling berharga dan generasi penerusnya.

Ia memang galak, dan itulah salah satu alasan dan cara dia untuk mendidik anak-anaknya. Dia selalu berpesan kepada kami, anak-anaknya, agar menjauh dari pergaulan bebas. Karena dia sangat takut anak-anaknya terjerumus kepada hal hal yang tidak diinginkan. (Tulisan ini dikirim oleh Adittya Maulana Putra, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)