Kisah Hidup Nenek Julaiha yang Baik
Menikah dengan H. Nurlan merupakan salah satu hal yang paling beliau syukuri selama hidupnya. Menjadi istri yang baik dan berbakti adalah hal yang selalu diutamakannya. Julaiha menghormati H. Nurlan dengan sepenuh hatinya. Hingga akhirnya H. Nurlan meninggal dunia 10 tahun silam. Julaiha sama sekali tidak terpikir untuk menikah lagi dengan lelaki lain. Karena baginya, H. Nurlan adalah cinta pertama dan terakhirnya.
Sepeninggal suaminya, Julaiha berusaha menikmati kesendiriannya. Ia tidak terus ingin berlarut dalam kesepian. Beliau pun menjalani sisa hidupnya bersama anak dan cucunya. Dari sembilan anaknya hanya 3 yang tinggal dekat dengannya dan semua telah berkeluarga. Keenam anaknya yang lain tinggal dan memiliki rumah agak jauh dari rumahnya.
Julaiha tidak pernah meninggalkan ibadah salatnya, baik yang wajib maupun yang sunnah. Julaiha menghabiskan sisa hidupnya dengan selalu berdoa untuk almarhum suami tercintanya dan untuk keselamatan anak cucunya. Salah satu keinginannya yang akhirnya terwujud adalah melakukan ibadah haji. Nenek Julaiha telah menunaikan ibadah haji tersebut beberapa tahun silam.
Ia pernah memiliki penyakit tumor di bagian hidungnya beberapa tahun silam. Julaiha tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha kuat melawan penyakitnya itu. Menurutnya, umur, jodoh, dan rezeki sudah ditentukan oleh Allah SWT. Penyakit dan cobaan adalah salah satu hal yang menurutnya harus disyukuri. Karena itu merupakan tanda Allah masih sayang kepadanya.
Mungkin ini balasan atas kesabaran dan juga jawaban atas doa-doanya. Julaiha akhirnya berhasil sembuh dari penyakit tumornya setelah menjalani operasi pengangkatan tumor di Rumah Sakit Carolus, Jakarta Pusat. Sungguh baik hati Nenek Julaiha. (Tulisan ini dikirim oleh Analuna Amanda dan Wulan Kurnia, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)