Youth Employment dan Digital Workers

Ilustrasi konten digital.
Sumber :
  • Viva.co.id/Amal Nur Ngazis

Selama dua  puluh tahun terakhir, Indonesia telah menikmati manfaat demografis seiring pertumbuhan populasi usia kerja yang lebih cepat daripada kenaikan populasi anak-anak dan lanjut usia. Hal ini merupakan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Seiring dengan diciptakan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik untuk mempekerjakan angkatan kerja yang akan bertambah kira-kira 20 juta orang dalam sepuluh tahun berikutnya.

Namun begitu, peluang demografis ini akan tertutup dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan. Karena pertumbuhan populasi lanjut usia mulai melampaui pertumbuhan angkatan kerja, sehingga menambah beban terhadap jaminan penghasilan para pekerja. Inilah sebabnya mengapa sepuluh tahun ke depan adalah masa yang kritis bagi Indonesia untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan memanfaatkan sebaik-baiknya peluang ini.

Masa depan Indonesia tergantung dari bagaimana kita mampu memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Hal ini menjadi tolak ukur utamanya. Apapun yang dilakukan, harusnya diukur dari sudut pandang itu. Teknologi dan inovasi mempunyai peran yang dominan dalam hal ini.

Berdasarkan survei asosiasi, pengguna internet Indonesia terus bertambah setiap tahun. Berdasarkan hasil survei internet APJII 2016, pengguna internet Indonesia saat ini mencapai 132,7 juta pengguna. Angka ini naik cukup tinggi dibandingkan dengan hasil survei pada tahun 2014. Yang menunjukkan jumlah pengguna internet Indonesia hanya mencapai 88 juta pengguna.

Angka 132,7 juta pengguna tersebut berarti melewati 50 persen dari jumlah populasi atau penduduk Indonesia, tepatnya penetrasinya sebesar 51,8 persen. Meski demikian, penetrasi internet tersebut mayoritas masih berada di Pulau Jawa. Dari survei yang dipresentasikan oleh APJII itu tercatat bahwa sekitar 86,3 juta orang atau 65 persen dari angkat total pengguna internet tahun ini berada di Pulau Jawa.

Seiring dengan perubahan digitalisasi yang terjadi, dunia startup digital akan menjadi dunia yang baru, masa depan dari Indonesia. Ketergantungan kita terhadap duniai internet beserta perangkatnya semakin terlihat dari waktu ke waktu. Jika semula penggunaan digitalisasi hanya sebuah gengsi dan aksi, kini telah berubah menjadi kebutuhan.

Visi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia pada tahun 2020, harus dikampanyekan dan dijadikan arus utama pembangunan. Termasuk di dalamnya program penciptaan 1.000 technopreneur digital yang perlu didukung semua pihak. Hal inilah yang akan menciptakan kesejahteraan dan kemajuan Indonesia di masa yang akan datang. (Tulisan ini dikirim oleh Billy Ariez, Jakarta)