Hujan adalah Kekasihku

Hujan.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – "Hujan adalah segala-galanya bagiku. Kau tak mampu membuatku hidup sementara hujan mampu membuatku hidup. Jadi, untuk apa aku pertahankan cintamu? Itu tidak masuk akal!"

Kala langit hitam dalam gambaran awan kelam. Mereka menangis dan merunduk di emperan pertokoan. Jikalau petir menyambar-nyambar tiang listrik dalam kegundahan insan. Maka mereka mengatupkan daun telinganya yang kedinginan. Mereka akan menangis menekuk wajahnya.

Kenapa hujan harus datang memeluk kabut dan menutup lengkungan janur senja di ufuk barat? Jikalau tetesnya deras tak beraturan, maka mereka akan menarik gasnya kencang menerobos tetesan langit yang tak jua bermuara. Desember musim penghujan.

Sebagian orang akan memasang wajah cemberut lantaran bagi mereka itu adalah sebuah bencana. Memperlambat kegiatan yang ada. Mengundurkan rencana. Masuk sekolah selalu terlambat. Alasan hujan. Sepatu basah enggan memakainya, akhirnya hujan membuahkan hukuman. Pekerja bangunan masuk angin lantaran dipeluk hujan. Permasalahan kacau jika mandor tahu mereka beristirahat, sementara proyek pembangunan harus segera diselesaikan.

Waktu pun muram. Pulang kerja kelamaan. Lantaran hujan tak mereda. Anak dan istri pun dipasung cemas di dalam rumah menanti kegelapan. Hujan adalah sebuah musibah kecil yang merisaukan. Lagi-lagi hujan dipermasalahkan. Seolah hujan selalu salah.

Tapi kalau kemarau datang, hujan menjadi kerinduan. Entahlah, otak insan memanglah membingungkan. Katanya di kepala, namun praktiknya di lutut atau malah di telapak kaki. Hey! Jangan mempermasalahkan hujan. Tak ada pengadilan yang mau menangani masalah hujan. Tentulah karena mereka tahu bahwa hujan tak pernah salah. Jadi tak pantas ia menjadi bahan pokok perbincangan. Hujan dan payung adalah sahabat sejati. Jadi jikalau kau hadirkan sahabatnya sebelum hujan turun, itu tak akan mengeluarkan penderitaan bukan?  Itu sebuah argumen kecil yang telah familiar di endapan siput telinga insan.

Tapi, ada hal yang menarik. Lihatlah dirimu. Jika hujan turun dari atap Tuhan. Saat jubah langit itu terbentang dalam balutan awan yang menakutkan. Tatkala petir bersahut-sahutan. Atau bahkan jikalau angin meniupkan dedaunan kering di angkasa. Dan burung-burung akan pulang ke sangkarnya. Bumi dilumuri kekelaman saat mereka melangkah porak-poranda menuju rumah impian, kau malah menyambut hujan dengan penuh kebahagiaan.