PMII dan Tenun Kebangsaan
Yang demikian menjadi tantangan yang harus direspon serius oleh PMII. Mengingat basis utama PMII adalah kampus dengan beragam latar belakang mahasiswa di dalamnya. Jaringan PMII yang luas di kampus-kampus harus mampu berperan aktif dalam menangkal dan menanggulangi berkembangnya kelompok-kelompok radikal yang menjadikan pemuda (mahasiswa) sebagai sasaran utamanya.
Lebih dari itu, kenyataan perkembangan di dunia, tidak sedikit negara-negara lain mengalami masalah dalam menangkal berkembangnya kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan agama. Hal ini juga harus menjadi perhatian PMII sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan yang terbesar, yang secara istiqamah melahirkan ratusan ribu kader setiap tahunnya.
Watak konsolidator kader PMII sudah seharusnya responsif terhadap isu-isu global. Terlebih pada isu radikalisme agama yang faktanya sangat erat kaitannya dengan pemuda. Sudah semestinya PMII bisa hadir menawarkan solusi dengan mampu mengemas Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan bernegara dengan kemasan khas pemuda.
Artinya, watak konsolidator yang ditopang dengan kekuatan ide dan jaringan yang luas, baik struktur, kader maupun alumni, penulis yakin PMII mampu menjadi referensi dan teladan dari cara pandang dan kerja pemuda tidak hanya pada level Asia, Timur Tengah atau Eropa tetapi lebih luas.
PMII harus meyakinkan dunia bahwa Islam-lah alasan kuat kita untuk harus tetap menjaga kerukunan dan keutuhan bernegara. Dan, Islam Indonesia yang mengakar pada tradisi dan budaya masyarakat dengan wajah yang ramah, toleran dan progresif sudah membuktikan itu semua. Selamat berkongres yang XIX PMII, pembela bangsa, penegak agama. (Tulisan ini dikirim oleh Miftahul Aziz, Alumni PMII Jogja)