Usia Bukan Halangan untuk Tetap Mengais Rezeki

Para mustahik penerima bantuan.
Sumber :

VIVA.co.id – “Kalau begitu, apa yang dimaksud miskin itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dia adalah orang yang tidak memiliki kekayaan yang bisa mencukupi kebutuhannya. Keadaannya tidak diketahui sehingga ada yang memberinya sedekah. Sedangkan ia sama sekali tidak meminta-minta kepada orang lain,” (Muttafaq ‘alaih).

Demikianlah kondisi Kokom, Kusmayadi dan Juju. Mereka termasuk kriteria miskin yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadis di atas. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga mencari rezeki. Tapi, apa mau dikata, kondisi mereka yang sudah tua ditambah lowongan pekerjaan yang semakin sempit dan keahlian yang terbatas, membuat mereka hanya bisa mencari pekerjaan seadanya sesuai dengan kemampuan mereka.

Seperti Kokom, yang sudah ke sana ke mari mencari pekerjaan dari rumahnya di Pajajaran hingga sampai di daerah Sukajadi dan sekitarnya. Ia menawarkan jasanya dari rumah ke rumah sebagai buruh cuci atau asisten rumah tangga.

Terkadang dia mendapatkan pekerjaan itu, terkadang dia hanya gigit jari seharian tak kunjung ada yang membutuhkan jasanya. Padahal, di rumah kecilnya dia harus membiayai seorang nenek yang buta ,yakni Juju yang kemarin dia bawa ke Rumah Yatim Cemara di Jl. Cemara, No. 23, Bandung.

Untungnya, seorang tetangga yang baik hati memberikan tempat untuk dia bernaung bersama anaknya yang merupakan orang tua tunggal dan pengangguran akibat harus mengurus buah hatinya yang sakit-sakitan.

Sama halnya dengan Kusmayadi atau Engkus. Karena sudah tua dan hidup sebatangkara, dia pun menawarkan jasanya untuk membetulkan atau menjual barang bekas. Namun, tidak semua orang membutuhkannya setiap hari. Ditambah tenaganya pun sudah tak mampu untuk bekerja lebih, karena riwayat kesehatan Engkus yang pernah dioperasi akibat herpes.

Serta merta Nenden Nurrahmi, Kepala Asrama Rumah Yatim Cemara menjadikan mereka mustahiknya. Setelah dicek dan membuktikannya sendiri, Nenden pun memberikan mereka santunan rutin sembako setiap bulan. Biasanya, mereka akan mengambil santunan tersebut langsung ke asrama.

Dari pertemuan singkat itu, akhirnya Nenden tahu sekelumit kisah Engkus yang tinggal di gubuk yang berada di atas salah satu pemakaman umum besar di kota Bandung. Meski tinggal di tempat seperti itu, namun semuanya tidak gratis. Ia masih tetap harus membayar setiap bulannya. (Tulisan ini dikirim oleh Enuy Nuryati)