Perjuangan Keras Merantau di Ibu Kota

Pak Abdurrahman saat menerima bantuan.
Sumber :

VIVA.co.id – Meski kini setiap tahunnya kaum urban yang mengadu nasib di ibu kota kian menurun, namun daya tarik ibu kota masih belum memudar. Terlebih bagi sebagian warga urban yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya mendapatkan pundi-pundi rupiah di Jakarta.

Salah satunya Bapak Abdurrahman, seorang penjual minyak goreng, kecap ,dan saus asal Tasikmalaya. Dia sudah menjalani pekerjaannya sebagai pedagang selama 10 tahun. Kehidupannya tak jauh berbeda dengan para perantau pas-pasan lainnya. Mungkin yang membedakan hanya usianya yang sudah lanjut. Walaupun dia masih kuat untuk berkeliling kota Jakarta dari pagi hingga petang menjelang.

Demi menghidupi keluarganya di Tasik, dia tinggalkan mimpi untuk bisa pensiun dari runyamnya kehidupan di ibu kota. Dengan mengontrak sebuah kamar seharga Rp500 ribu per bulan, di Gg. Masjid 1 Radio Dalam, Jakarta, ia hidup seorang diri tanpa istrinya yang baru saja meninggal dunia lebih dulu.

“Bapak hidup sendirian di sini,” paparnya kepada Nurul, salah satu karyawan Rumah Yatim yang berkesempatan memberikan bantuan sembako kepadanya. Meski tak ada lagi istri, namun Pak Abdurrahman tak mau bergantung kepada anak-anaknya di kampung. Untuk itu, dia terus mempertahankan pekerjaannya. Agar saat dia kembali ke kampung halaman yang biasa dilakukan setiap 2 bulan sekali itu, ia dapat membawa bekal. Karena itulah dia harus hidup dengan penuh keprihatinan di kontrakannya.

Alhamdulillah, kadang cukup, kadang-kadang kurang, Neng,” paparnya. Meski dalam serba kekurangan, namun Pak Abdurrahman mengaku kalau dia bersyukur karena selalu saja ada orang yang memberikan perhatian kepadanya. Salah satunya Rumah Yatim, yang sudah memberinya paket sembako. “Jazakallah khairan katsir, terima kasih banyak. Semoga Rumah Yatim semakin maju,” pungkasnya. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)