Bermain Kuis dengan Ungku Buchori di Arafah

Bermain Kuis dengan Ungku Buchori di Arafah.
Sumber :
  • vstory

VIVA - Usianya 17 tahun (dibalik). Sekilas mirip tokoh Mahatma Gandi. Cara Pensiunan perusahaan plat merah dari Tanah Minang ini sangat inspiring, seperti Si Doel Anak Sekolah, sinetron yang famous itu.

Setelah beberapa hari saya off bikin catatan perjalanan haji, saya ingin bercerita tentang kebersamaan bersama Ungku Buchori Taswi. (Ungku ini bahasa Minang, bermaksud sebagai panggilan kehormatan dan kesayangan). Kebersamaan ini bermula dari dalam tenda di Lembah Arafah.

Arafah adalah satu-satunya tempat istimewa karena punya premium time untuk berdoa. Waktu itu hanya berlangsung sekitar 6 jam, dari dzuhur hingga tenggelamnya matahari. Hanya setahun sekali, yaitu 9 Dzulhijjah. Karenanya, waktu ini dimanfaatkan betul oleh jemaah haji untuk bermunajat kepada Tuhannya, memohon ampunan dan kasih sayang.

Ada yang berusaha berselawat sejumlah pohon di Arafah berikut ranting dan daunnya. Ada juga yang berselawat sejumlah awan di antara bumi dan langit yang sebagian akhirnya jadi air hujan. Ada juga yang hanya berselawat sejumlah ruas jari tangan kanan, tidak sekalian ruas jari tangan kiri.

"Tolong baca doa Khatmil Quran. Saya yang mengamini," pinta Ungku Buchori di tengah kekurangan cahaya dan hangatnya udara suasana tenda. Travo listrik dekat tenda kami meledak tiba-tiba hingga akhirnya sekitar 10 jam kami bertenda tanpa lampu dan pendingin ruangan.

Selama berhaji, Ungku Buchori sudah khatam Quran 2 kali, menjadikan khatamnya 14 kali di 2019 yang belum usai ini. Ungku bahkan mencatat, sepanjang 1978-2014 sudah 36 kali khatam.

Pada 2015-2018 rerata khatamnya 15 kali. Total sepanjang hayatnya, sudah sekitar 92 kali khatam Quran, mengingatkanku pada ayah di dusun halaman yang 3-5 hari sekali khatam Quran.

"Ungku ini pensiunan. Kerjanya ya seperti Si Doel." Meski sudah mengernyitkan dahi, saya belum paham maksud Kakek Buchori ini. "Kerjaannye sembahyang mengaji
Tapi jangan bikin die sakit hati," ungkap Ungku mengutip menyanyikan lagu sinetron Si Doel. Ungku ini memang pandai melucu.

Ungku Buchori pernah dapat beasiswa kuliah di ITB dan 1 sengah tahun kuliah di Jerman. Background teknik ini mungkin yang membuatnya menyukai detail. Stelah pindah ke Tangsel menikmati hari tua, dia suka mencatat dan menghitung beberapa detail dalam Alquran.

Kuis pertama dilempar Ungku setelah doa Khatmil Quran saya bacakan. "Subhana rabbika rabbil 'izzati amma yasifun wa salamun alal mursalin wal hamdulillahi rabbil 'alami. Tahu gak surat apa?" Sontak saya kaget dapat pertanyaan ini dari Ungku. "Qs Ashshoffat 180-182. Coba kita cek." Saya buka lembar demi lembar Alquran dan benar kata Ungku.

"Kita kan sering baca ayat kursi. Tau gak surat apa ayat berapa?"

"Albaqarah tapi ayatnya gak tau Ungku."

"Ayat 255. Coba cek."

Kecintaan Ungku membaca selawat dia ekspresikan dengan mencatat ayat perintah berselawat kapan nabi.


"Innallaha wa malaikatahu yusholluna alannabiy. Ya ayyuhal ladzina amanu shollu alaihi wa sallimu taslima. Alahzab 56."

Bersama-sama kami memverifikasi jawaban Ungku dan memang presisi. Kakek beranak 4 dan bercucu 6 ini juga menghitung dan mencatat 7 kali pengulangan ayat kun fayakun, 31 kali pengulangan ayat perintah salat dan zakat yang beriringan, 27 kali ayat soal infaq.

Kebersamaan dengan Ungku berlanjut di tenda Mina. Posisi duduk dan tidur kami berdampingan. Ungku yang menderita sakit parkinson ini emang benar-benar "Si Doel." Bermain kuis pun berlanjut. Hanya sekali jawaban Ungku Buchori dalam kuis yang kurang presisi yaitu saat menjawab soal ayat terpanjang.

"Ayat terpanjang di Alquran itu tentang Utang Piutang. Ada di ayat ketiga terakhir Albaqarah," ungkap Ungku.

"Bukan ketiga terakhir Ungku," kataku seraya menemani dia membuka Alquran di tangannya.

"Benar ente Haji Ahmad. Kali ini Ungku salah. Posisi 4:1 hehehe," kata Kakek Buchori terkekeh pada suatu siang 12 Dzuhijah sebelum hujan deras mengguyur Mina.

Begitu hujan reda, Ungku menyerahkan 2 paket batu berisi masing 30 untuk dibadalkan atau diwakilkan lempar jumrah tanggal 12 dan 13 Dzulhijah.

Ungku Buchori mungkin bukan siapa-siapa. Tapi cara dia menikmati masa senja bisa jadi alternatif bagi kita yang akan menua ini.

Ungku terbebas dari sangkaan korupsi. Ungku juga membebaskan dirinya untuk merasa menjadi orang yang harus selalu terlibat menyelesaikan setiap persoalan.

Dia menyadari generasi terbaru lebih mampu memahami apa yang terbaik yang harus dikerjakan untuk bangsa ini. Sehat selalu Ungku. Hajjan mabruran. (Ahmad Muhibbuddin, Alumni Madrasah Aliyah Program Khusus Jember dan UIN Syahid Jakarta)

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.