Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Piwulang Sunan Bonang; Puasa, Janur, dan Kupat

Rabu, 13 Mei 2020 | 10:25 WIB
Oleh :
Foto :
  • vstory
Ketupat

VIVA – Ada sebuah joke ringan menjelang puasa “Sesungguhnya tanda-tanda puasa adalah semakin bertebarannya iklan sirup di televisi (surat al-iklan)”. Sebuah joke yang bisa menunjukkan realitas kekinian yang ada di kehidupan kita. Ada dimensi humor, tapi ada juga sebuah ironi tentang komersialisasi puasa.

Saya yakin kita semua sudah sangat paham tentang apa syariat puasa yang harus dijalankan di bulan Ramadhan ini. Dan juga tentang hakikat-hakikat yang ada dalam perintah menjalankan puasa tersebut. Di sini saya mencoba mengelaborasi sebuah piwulang yang diajarkan oleh Sunan Bonang.

Baca Juga

Piwulang adalah sebuah kosa kata bahasa Jawa, yang secara sederhana bisa diartikan sebuah pelajaran yang diajarkan secara pararel dengan tingkah laku. Seperti pepatah Jawa “ilmu iku kelakone kanti laku”, bahwa kita bisa memahami sebuah ilmu kehidupan apabila tidak berhenti hanya di dalam teori, tapi juga dijalankan dalam perilaku keseharian kita.

Banyak kisah tentang Sunan Bonang, ada yang bisa ditelisik dengan ilmu sejarah, tapi ada juga yang berupa dongeng dari mulut ke mulut dan ada juga yang sekadar menjadi mitos. Tapi menurut saya bahwa kisah-kisah Sunan Bonang dan para wali lainnya menarik karena bisa ditelisik baik secara historis maupun historik.

Secara historis dengan pisau analisis ilmu sejarah, filologi, ataupun arkeologi. Dan juga secara historik, yaitu mengambil sebuah hikmah atau moral cerita yang ada dengan mengkomparasikan pada masa sekarang.

Tentang puasa ini ada sebuah piwulang yang diajarkan oleh Sunan Bonang, yang juga merupakan guru dari Sunan Kalijaga. Di mana, dalam berdakwah Sunan Bonang selalu mengedepankan sebuah dakwah yang sejuk dan damai, sesuai dengan semangat dasar filosofi dari Islam yaitu rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta.

Jadi dalam berdakwah pun selalu mengakrabi kebudayaan masyarakat yang ada, tanpa kehilangan esensinya, hingga terjadi dialektika dan bahkan memberikan nuansa makna yang lebih kaya, seperti piwulang dalam berpuasa, melalui simbol budaya Jawa.

Read more...
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler