Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Pilkada

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Kisah Ustaz Noor Temukan Metode Ngaji A-I-U Houhou

Selasa, 22 September 2020 | 11:32 WIB
Oleh :
Foto :
  • vstory
"Michiko, andaikata kamu muslim dan ikut mengaji Al-Qur’an, mungkin Jepang tidak akan menjajah Indonesia."

Kini tepat pada tahun 2020 perjuangan Noor Wachid membuat metode membaca Al-Qur’an berbahasa Jepang dan Korea telah dirampungkan. Tepat enam tahun lebih kertas bendel-bendel tebal itu ia kerjakan sampai larut malam itu kini telah dijilid rapi tanpa terlihat tempelan sana-sini menjadi sebuah metode A-I-U Houhou. Sebuah metode belajar membaca Al-Qur’an yang unik diciptakan untuk saudara Muslim “Michiko” di Jepang.

Noor Wachid, akrab dipanggil Ustaz Noor, mulai menceritakan perjalanannya membuat metode A-I-U Houhou pada satu malam di kantor PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta. Noor Wachid berharap metode A-I-U Houhou yang didesainnya diharapkan bisa dibantu untuk sampai dan disyiarkan oleh jaringan dakwah PPPA Daarul Qur’an dan SedekahOnline di Jepang dan Korea.

“Yang saya hadapi dari calon-calon murid yang akan belajar dengan metode ini adalah, pertama, orang Jepang di mana belum banyak lingkungan sekitarnya yang bisa membaca Al-Qur’an. Kedua, susah mencari pengajar Al-Qur’an di Jepang. Ketiga, yang bisa membaca Al-Qur’an belum tentu mau mengajarkan. Keempat, niat belajar Al-Qur’an minim karena beranggapan itu adalah hal yang sulit, padahal menurut saya tidak, karena jumlah huruf hijaiyah cuma 28 sedangkan huruf Jepang masih ada Hiragana dan Katakana. Dengan metode A-I-U Houhou saya berharap akan lebih mudah dipahami untuk belajar baca Al-Qur’an,” ujar Ustaz Noor yang membawa dua bendel hasil karyanya yang telah dijilid rapi.

Baca Juga

Tentu saja hasil dua bendel buku metode A-I-U Houhou itu telah mengalami perjalanan panjang dan berliku. Ustaz Noor memulainya enam tahun lalu, hanya tekad kuat yang membawanya, tanpa bekal kemampuan bahasa Jepang, ia memulainya dengan blusukan sana-sini.

Beberapa metode baca Al-Qur’an yang pernah dipelajarinya ia gunakan sebagai referensi menyusun metode A-I-U Houhou-nya. Mulai dari metode Iqro, metode Ummi, Qira’ati, sampai Al-Barka.

Berkat kesukaannya membaca berbagai buku dan literatur ia pun menggunting dari setiap buku-buku yang dibacanya setiap kata yang diperlukan, ditempel sana-sini dalam kertas HVS lalu di fotocopy untuk kemudian dijilid.

Noor Wachid bukanlah seorang guru, ia menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Muallimin Muhammadiyah kemudian melanjutkan ke IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) dan lulus tahun 1975.

Ia melanjutkan hidupnya dengan bertanam buah nanas di Banyuwangi. Keputusan mulai bertani ia ambil lantaran keinginannya untuk pergi ke tanah suci. Ingatannya akan cerita sang guru SD tentang hebatnya tanah Raudhatul Jannah atau sering disebut dengan Raudhah, dimana merupakan tempat di kompleks masjid Nabawi yang mustajab untuk berdoa, menjadi motivasi kuatnya mengunjungi dua tanah suci, Mekah dan Madinah.

Tepat pada 2014, impian Ustaz Noor mengunjungi kota suci tersampaikan. Bersama istrinya, ia pergi dan berdoa di Raudhah, menyaksikan keindahan Raudhah yang diceritakan gurunya semasa sekolah dasar, juga tentang harapan dan impiannya membuat keinginan Sang Ibu menjadi kenyataan.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler