Berkiprah 26 Tahun di Nasional, Pria Ini Bertekad Bangun Daerahnya

Ir. Muhammad Ruslan blusukan ke pelosok desa di Kabupaten Dompu
Sumber :
  • vstory

VIVA – Kita tidak boleh remehkan desa. Membangun sebuah peradaban itu wajib hukumnya dimulai dari desa. Demikian penegasan putra asli Dompu yang pernah bekerja di IPTN, bersama Pak Habibie ini, bernama Muhammad Ruslan.

Sebuah pernyataan menohok mengawali diskusi. Mengingat Jargon Dompu Juara ini menurut kami merupakan gagasan yang menarik untuk dibedah dan dipahami sebagai gagasan yang rasional (masuk akal).

Mengingat mayoritas penduduk Kabupaten Dompu hidup di perdesaan dan sektor pertanian, perikanan, peternakan & kehutanan sebagai sektor unggulan daerah ada di perdesaan. Jadi, jika ingin memajukan Dompu, majukan desanya. Begitupun jika ingin mensenjahterakan Dompu, sejahterakan desanya.

Pemaparan mengenai ruang lingkup pedesaan, selain urusan pembangunan infrastruktur, pemerintah juga harus memperhatikan aspek penunjang kapasitas pembangunan Sumber Daya Manusia. Mulai dari perhatian pada jajaran aparatur pemerintahan desa itu sendiri, yang paling utama juga pada komponen masyarakatnya.

Di samping itu banyak program-program berbasis pemberdayaan, inovatif dan akseleratif jika pemerintah Daerah sungguh-sungguh, konsisten dan kontinue mengembangkannya. Mengingat masih banyak persoalan yang seringkali selalu hangat untuk diperbincangkan, tentu saja tidak boleh dipandang sebelah mata.

Berbekal pengalaman 20 tahun bekerja di BAPPENAS & Kementerian PDT, pria kelahiran Dompu, 4 Agustus 1967 ini, di samping masalah kemiskinan, keberadaan pengangguran juga mendominasi diskusi media sosial, ruang keluarga, kamar tidur, warung-warung kopi, kantin kantor hingga sekolah.

Disebutnya menghadirkan industri kecil adalah salah satu solusi pemecah persoalan ini. Untuk mengolah hasil pertanian, misalnya, harus dihadirkan sebagai bagian dari inovasi untuk penyerapan tenaga kerja dan membuka ruang peningkatan ekonomi masyarakat di perdesaan.

"Sebagai gambaran, angka kerja yang ada di sini baru terserap sekitar 7,11 %. Cukup minim dibandingkan daerah lain di NTB. Padahal peluang kita untuk menghadirkan industri kecil sangat terbuka untuk mengolah potensi-potensi yang ada. Baik di sektor pertanian maupun di sektor lain seperti perkebunan, peternakan perikanan bahkan kehutanan", tutur Muhammad Ruslan mengutip data dari BPS setempat.

Di kalangan masyarakat Dompu program pijar ini sudah hampir 10 tahun digulirkan. Hasil produksinya melimpah ruah. Maka sudah saatnya, kita hadirkan Industri Pengolahan. Sisi manfaat dan keuntungannya banyak sekali. Salah satunya itu tadi, pemecah masalah pengangguran," paparnya.

"Ke depan, perdesaan harus benar-benar focus mempersiapkan 4 pendekatan, yaitu pengembangan potensi ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, sarana prasarana, dan penguatan kelembagaan," ucapnya.

Di jeda presentasinya, sekali lagi beliau mengungkapkan, bahwa Jargon Dompu Juara yang digulirkan itu, bukan sekadar wacana, apalagi retorika. Melainkan Kiblat Perjuangan yang kami dirikan secara terukur, terarah dan sudah melalui analisa serta pertimbangan yang matang.

Gagasan dan konsep tersebut merupakan arah baru kami yang semata-mata tersadarkan dari tidur panjang. Bahwa Dompu hari ini sedang tidak baik-baik saja. (VGD)

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.