Menerka Harga BBM Subsidi, Naik Tidak...

Presiden Jokowi
Sumber :
  • vstory

VIVA – Belum pulih di hantam pandemi Covid-19. Ekonomi dunia dihantam lagi oleh perang Rusia-Ukraina.

Perang Rusia-Ukraina membuat harga komoditas energi dan pangan melonjak tajam. Tertinggi dalam sejarah.

Akibatnya sebagian besar negara di dunia mengalami lonjakan angka inflasi yang dipicu naiknya harga energi dan pangan.

Alhamdulilah, Indonesia bisa mengendalikan angka inflasi. Meski bukan tanpa pengorbanan. Inflasi rata-rata semasa Presiden Jokowi sebesar 2,77 persen. Jauh lebih rendah dibanding inflasi rata-rata pemerintahan sebelumnya.

Saat Pemerintahan SBY inflasi rata-rata sebesar 7,52 persen. Demikian halnya dengan pemerintahan di bawah Megawati, inflasi tercatat sebesar 7,18 persen. Di era Presiden Abdurahman Wahid (Gusdur) sebesar 10,18 persen.

Dan medsos pun riuh dengan glorifikasi rendahnya inflasi di era Presiden Jokowi.

Perang Rusia-Ukraina, pelan tapi pasti mengerek angka inflasi Indonesia. Tercatat inflasi tahun ke tahun (Juli 2021-Juli 2022) sebesar 4,94 persen. Dan inflasi Januari-Juli 2022 sebesar 3,85 persen.

Benar, bahwa ekonomi nasional bertumbuh 5,44 persen. Lebih tinggi dari prediksi, 5,1 persen. Dan angka pertumbuhan ini di atas pertumbuhan ekonomi kuartal dua tahun 2020, sebelum Covid-19.

Perang Rusia- Ukraina entah kapan berakhirnya. Stabilitas harga pangan dan energi di pasar internasional belum jelas kapan menuju equilibrium baru. Pasar setiap hari bergejolak. Menyulitkan bagi pemerintah untuk berhitung angka pasti.

Kini, APBN 2022 mengalami tekanan berat. Meski di sisi lain, APBN juga dapat limpahan keuntungan tak terduga (windfall profit) yang sangat besar akibat lonjakan harga komoditas di pasar internasional.

Angka subsidi terus membengkak. Ditambah kebutuhan semakin besar, sementara pasokan semakin ketat. Semakin membuat APBN menderita.

Seperti diketahui harga minyak di APBN di patok pada harga US$ 63 per barel. Sementara harga minyak dunia rata-rata sepanjang Januari-Juli 2022 sebesar US$ 105.

Akibatnya subsidi yang semula dianggarkan sebesar Rp152 triliun kini melonjak jadi Rp 502 triliun!

Angka subsidi sebesar itu bakalan bertambah mengingat besaran minyak subsidi di APBN 2022 sebesar 23 juta kilo liter sudah terpakai 73 persen atau sekitar 16,84 juta kiloliter. Jadi hingga Desember 2022 diperkirakan minyak subsidi bakal menembus angka 28-29,1 juta kiloloter. Akibatnya subsidi yang sebesar Rp502 triliun itu bakal melonjak lagi menjadi Rp677 triliun!

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.