Bagaimana Masa Depan Rupiah Digital?
- vstory
VIVA – Sistem Bretton Woods bubar pada tahun 1976 setelah beberapa negara di Eropa mengalami kehancuran ekonomi sehingga tidak lagi bisa menjadi partner perdagangan Amerika Serikat, di samping itu resesi ekonomi dunia yang berlangsung besar-besaran pada periode waktu itu telah mendorong negara-negara di dunia untuk mengedepankan kepentingan nasionalnya masing-masing
The Fed tergiur mencipta dollar melebihi kapasitas emas yang dimiliki. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan masyarakat dunia terhadap dolar AS.
Hal tersebut ditandai dengan peristiwa penukaran dollar secara besar-besaran oleh negara-negara Eropa.
Adalah Prancis, pada masa pemerintahan Charles de Gaule, negara yang pertama kali menentang hegemoni dollar dengan menukaran sejumlah 150 juta dollar AS dengan emas.
Tindakan Prancis ini kemudian diikuti oleh Spanyol yang menarik sejumlah 60 juta dollar AS dengan emas. Praktis, cadangan emas di Fort Knox berkurang secara drastis.
Bretton Woods II
Ujungnya, secara sepihak, Amerika membatalkan Bretton Woods System melalui Dekrit Presiden Nixon pada tanggal 15 Agustus 1976, yang isinya antara lain, USD tidak lagi dijamin dengan emas. ‘Istimewanya’, dollar tetap menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara di dunia. Pada titik ini, berlakulah sistem baru yang disebut dengan floating exchange rate.
Bayangkan sejak 1976 USD tidak lagi dilindungi nilainya oleh emas. Nilai integritas nya turun terus.
Akibat nya rupiah yang sekarang terdepresiasi terhadap USD, akhirnya mengalami dobel impact, dari depresiasi dan dari turun nya nilai USD.
Contohnya harg Avanza tahun 2010 masih Rp 150 juta sekarang harganya di atas Rp 250 juta
Bretton Woods III
Sejak 2022 ini Rezim moneter USD mengalami perubahan ke-3 yaitu
• USD terus menerus dicetak, caranya anggaran belanja USA defisit sehingga mereka mencetak USD keperluan defisit impor, misalnya terhadap impor produk Tiongkok, dll.
• Karena perdagangan petro dollar semakin habis, dalam 20 tahun BBM habis.
• Maka USD tidak lagi ada basis nya. Alhasil seperti zombie, tak bernyawa. Sehingga untuk mempertahankan nilainya USD, make caranya adalah create and destroy.
• Mulai 2022 G7 memutuskan pada bulan lalu, untuk menyita cadangan devisa negara Russia sebesar USD 600 billion.