Jokowi Tak Mau Ekonomi RI Tumbuh Tinggi tapi Ekspornya Loyo

Presiden Joko Widodo di Kementerian Luar Negeri.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Fajar GM

VIVA – Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Indonesia harus lebih ulet dan serius, untuk menggarap pasar non-tradisional. Selama ini, Indonesia dianggap masih selalu tergantung pada pasar lama, padahal banyak negara memiliki potensi besar.

img_title Maunya Bahlil Ekspor Sumber Daya Alam RI Tak Lewat Negara Perantara: Indonesia Tidak Bisa Diatur

Hal ini diungkapkan Jokowi, saat membuka Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin 12 Februari 2018.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mencontohkan, ketika beberapa waktu lalu berkunjung ke beberapa negara, terutama di Asia Selatan, ia kaget lantaran banyak negara yang dipandang sebelah mata, tetapi potensinya sangat besar.

img_title Indonesia Belum Bisa Ekspor Listrik, Bahlil Tegaskan Kebutuhan Domestik Jadi Prioritas: Kita Masih Butuh

"Contohnya, Pakistan itu besar sekali, penduduknya hampir 210 juta dengan pertumbuhan ekonomi besar. Ini sebuah pasar yang besar dengan kita juga hubungannya baik sekali. Jangan dipandang sebelah mata pasar seperti ini," kata Jokowi.

Selain Pakistan, Bangladesh juga merupakan salah satu negara dengan potensi besar, di mana ada sekitar 160 juta penduduk dan ekonomi yang besar. Negara-negara di Afrika pun memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik dengan penduduk yang banyak, namun tak digarap dengan serius.

img_title Ekspor RI Tembus Rp3.982 Triliun, Neraca Dagang Surplus Rp191 Triliun

"Saya pernah tanya ke Dubes, ada pameran kita malah enggak ada yang ikut. Saya bilang, pameran itu stannya jangan di pojok dekat toilet, kita kan negara besar, kalau mau bikin pameran yang gede sekalian, di depan gerbang," tegas Jokowi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Jokowi, kunci penentu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang paling penting hanya dua, yakni peningkatan investasi dan ekspor. Meski Anggaran Pendapatan Belanja Negara meningkat, namun hal itu tidak memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

"Masa negara sebesar Indonesia ekspornya kalah dengan Malaysia, Thailand, dan Filipina. Apa yang keliru? Karena semua hanya rutinitas, monoton, tidak pernah ada terobosan. Saya enggak mau pertumbuhan naik, tetapi kita kalah dengan negara-negara tadi," tegasnya.

Menko Bahlil saat pembukaan Minerba Convex 2026.

Larangan Keras Bahlil agar Ekspor SDA Tak Mampir ke Negara 'Yang Itu': Saya Nggak Bisa Diolah oleh Mereka

Bahlil melarang keras ekspor SDA Indonesia transit di negara lain. Minyak, gas, LNG, dan hasil tambang diminta langsung dikirim ke negara tujuan demi menjaga kedaulatan.

img_title
VIVA.co.id
3 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut