Guru Perlu Miliki Jiwa Kewirausahaan

VIVAnews - Kewirausahaan harus dimulai dengan pembinaan entrepreneurship guru pembimbing. Salah satu kelemahan terbesar dalam kewirausahaan (entrepreneurship) di Indonesia adalah lemahnya jiwa entrepreneurship guru pembimbing. 

Pengusaha Nasiona Bob Sadino mengatakan, sistem pendidikan Indoensia kebanyakan masih menggunakan prinsip belajar untuk tahu. Padahal yang lebih penting adalah melakukan sesuatu dan mengkomunikasikannya. Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek kewirausahaan.

"Dari tiga pilar pendidikan, sistem pendidikan di Indonesia masih berputar pada teori dan buku teks saja," ujar Sadino di Jakarta, Selasa 18 November 2008.

Begitu pula halnya dengan entrepreneurship, dia mengatakan agar bisa berkembang, para pengajar harus memiliki jiwa itu terlebih dulu.

Pemilik perusahaan ritel KemChik ini memaparkan masalalaunya dalam merintis usaha. "Kita harus berani segala situasi dalam membangun bisnis. Ini merupakan perjalanan alamiah," katanya.

Dari situ, lanjut dia, bagaimana caranya menciptakan siklus bisnis yang baik dengan mengembangkan pasar dan industri.

Tak Setuju Usaha Kecil
Sadino tidak pengkotak-kotakan usaha dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Karena secara psikologis, dengan sebutan mikro kecil, pengusaha menjadi minder. Ini yang membuat Indoensia susah berkembang dbandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. "Lebih baik disebut Usaha Bakal Besar (UBB)" ujar Sadino.

Di tempat yang sama Direktur Pembainaan SMK Departemen Pendidikan Nasional Joko Sutrisno mengatakan, program SMK telah berusaha menyatukan praktek dan teori. Dalam program bisnis dan manajemen siswa dipaksa mempraktekan teori di kelas. 

Dalam APBN-P 2008, sistem pemberdayaan SMK termasuk suntikan modal kerja, mencapai Rp 20 miliar. Rp 4,2 miliar di antaranya untuk pelatihan entrepreneurship. "Sedangkan 2009 anggarannya Rp 24 miliar. Ini masih bisa ditambah," kata Joko.