Stok Minyak Mentah Turun, Harga pun Naik

VIVAnews - Harga minyak mentah meningkat bersamaan dengan turunnya persediaan di Amerika Serikat (AS). Selain itu muncul proyeksi bahwa jumlah pengendara kendaraan bermotor di AS akan meningkat pekan depan, saat mereka menikmati hari libur Thanksgiving.

Pada perdagangan di bursa New York, Rabu sore waktu setempat (Kamis dini hari WIB), harga minyak light sweet untuk stok Desember naik 44 sen menjadi US$79,58 per barel. Kenaikan pada Rabu, 18 November 2009 tersebut merupakan kenaikan dalam tiga hari berturut-turut. Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Desember naik 50 sen menjadi US$79,47 di bursa ICE Futures, London.

Lembaga survei dari Departemen Energi AS mengungkapkan bahwa stok minyak mentah pekan lalu turun 887.000 barel menjadi 336,8 juta barel. Penurunan ini sedikit besar dari perkiraan para pengamat.

Naiknya harga minyak juga dipengaruhi proyeksi dari Asosiasi Pengendara Kendaraan Bermotor (AAA) bahwa 33,2 juta orang di AS akan menggunakan kendaraan mereka dan bepergian menempuh jarak sedikitnya 50 mil saat liburan Thanksgiving mulai Rabu mendatang hingga Minggu. Besar peningkatan itu naik 2,1 persen dibanding 2008, meski satu galon bensin lebih mahal 56 sen dibanding saat yang sama tahun lalu.

AAA, yang membuat laporan berdasarkan survei melalui telepon, mengatakan bahwa peningkatan itu merupakan sinyalemen bahwa konsumen lebih percaya pada ekonomi. Namun penurunan stok tersebut tidak bisa dianggap sebagai tanda bahwa ekonomi telah pulih. Konsumsi bensin di AS telah anjlok ke level terendah sejak 17 Juli dan perusahaan-perusahaan minyak mengimpor minyak lebih sedikit.

"Permintaan masih sangat, sangat lemah," kata Jim Ritterbusch, presiden perusahaan konsultan energi Ritterbusch and Associates. Sejumlah analis mengharapkan ada pertumbuhan ekonomi global untuk menjaga komoditas seperti minyak agar tidak melonjak terlalu tinggi. Pertumbuhan global kemungkinan akan mencapai rata-rata 2,5 persen per tahun selama kurun tiga tahun mendatang. (AP)