Arab Saudi Bantah Kabar akan Beri Hukuman Berat atas Feminisme

Forum ekonomi dan keuangan di Riyadh, Arab Saudi, beberapa waktu lalu.
Sumber :
  • Ist

VIVA – Pemerintah Arab Saudi, melalui Kantor Koordinator Keamanan Negara, membantah laporan suatu media massa soal pemberian hukuman yang berat bagi kaum perempuan dalam menerapkan hak-haknya, termasuk penjara maupun cambuk. Komisi HAM Arab Saudi juga menyatakan bahwa feminisme bukan suatu kejahatan di kerajaan itu.

Sosok Kriangkrai, PRT Sebabkan Sejarah Berdarah Thailand-Arab Saudi

Beberapa hari sebelumnya surat kabar Al Watan - yang disiarkan juga oleh media online The New Arab - mengabarkan pernyataan dari pengacara bernama Nawaf al-Nabati yang menyatakan bahwa, sama seperti praktik homoseksualitas, warga yang kedapatan melancarkan gerakan feminisme akan mendapat hukuman berat dari pihak berwenang, mulai dari denda, cambuk di muka umum, hingga penjara.  Pernyataan itu didasarkan klaim bahwa aparat Arab Saudi memberlakukan feminisme termasuk elemen ekstremis pada Jumat pekan lalu, walau saat ini pemerintah kerajaan tersebut melancarkan reformasi dan melonggarkan aturan-aturan konservatif bagi warganya.

Namun, pemberitaan itu dibantah oleh Kantor Koordinator (Presidency) Keamanan Negara. “Laporan dari surat kabar itu tidak benar dan oleh karena itu Kantor Koordinator telah mengambil sejumlah langkah hukum yang diperlukan bersama pihak terkait atas surat kabar tersebut  karena memberitakan kabar bohong,” demikian pernyataan Kantor Koordinator Keamanan Negara, yang dimuat oleh kantor berita Saudi Press Agency (SPA), yang juga dimuat Saudi Gazette.

Arab Saudi-Thailand Berselisih 30 Tahun karena PRT Pangeran

Komnas HAM Arab Saudi Selasa kemarin juga menegaskan bahwa feminisme bukan suatu tindak pidana. “Kerajaan memegang teguh hak-hak perempuan,” demikian pernyataan Komisi itu sembari menyatakan bahwa akhir-akhir ini terjadi kemajuan yang signifikan atas pemberdayaan kaum perempuan.

Komisi juga mencatat bahwa pihak kerajaan selama ini menjamin secara penuh bagi kaum perempuan dalam menerapkan hak-hak mereka. Apalagi peran mereka juga dipandang sangat penting bagi upaya Arab Saudi dalam menerapkan strategi pembangunan yang berkelanjutan, yang menjadi salah satu tujuan dari Visi 2030.   

Arab Saudi-Thailand Pulihkan Diplomatik Setelah 30 Tahun Tak Akur
Selama ini perempuan Saudi hanya bekerja di bidang yang terbatas seperti guru dan tenaga kesehatan karena ketatnya pemisahan jender. (Reuters: Hamad I Mohammed)

Lowongan Masinis Perempuan di Saudi Dibanjiri 28 Ribu Pelamar

Sebuah lowongan kerja sebagai masinis perempuan di Arab Saudi dibanjiri oleh 28 ribu pelamar, padahal hanya 30 posisi yang tersedia. Antusiasme perempuan bekerja.

img_title
VIVA.co.id
17 Februari 2022