Cerita Mochtar Riady tentang Besarnya Ancaman Bisnis di Era Digital

Pendiri Lippo Group, Mochtar Riady.
Sumber :
  • Arrijal Rachman/VIVAnews.com

VIVA – Pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, membeberkan besarnya potensi ancaman perkembangan teknologi digital ke depannya. Apabila tidak dimanfaatkan dengan baik oleh berbagai industri justru bisa akan berdampak buruk.

Manufaktur RI Menggeliat, Airlangga Jaga Iklim Usaha Kondusif

Bahkan, kata dia, saat ini, perkembangan teknologi bisa membuat suatu perusahaan atau bisnis bangkrut seketika.

"Yang penting bukan cerita teknologi digitalnya, tapi bagaimana memanfaatkannya untuk perdagangan kita, administrasi kita, supaya semuanya bisa lebih efisien," kata Mochtar di Djakarta Theater, Kamis, 28 November 2019.

Era Teknologi Digital Bikin Mata Enggak Bisa Lepas dari Gadget

Dia mengungkapkan, pada dasarnya, keberlanjutan dari bisnis dari suatu industri, tidak didasari atas besarnya modal yang mereka miliki, maupun aset-asetnya. Melainkan bergantung dari kemampuan industri tersebut dalam memanfaatkan perkembangan teknologi digital.

Mochtar mencontohkan hal itu terhadap industri tekstil yang saat ini diisukan masuk sunset industry. Menurut Mochtar, pada dasarnya tekstil merupakan kebutuhan utama dalam hajat hidup manusia, sehingga bisnisnya tak mungkin mati. Namun, yang menyebabkan industrinya mati adalah tidak mampu memanfaatkan teknologi digital.

Inovatif, Teknologi Digital Dorong Produktivitas Sektor Peternakan

"Apa Anda pernah berpikir satu hari enggak berpakaian? Kalau tidak ya enggak akan jadi sunset, yang ada kalau Anda punya pabrik enggak gunakan digital dalam administrasi dan gunakan artifical intelligence dalam produksi," tuturnya.

Menurutnya, ancaman itu pada dasarnya juga tidak hanya dimiliki oleh industri semata, melainkan juga membelenggu negara. Dia mencontohkan, China sejak di bawah komando Dinasti Ming hingga Jing, perekonomiannya meliputi 30 persen ekonomi dunia.

Namun, karena sistem politiknya yang tertutup, membuatnya enggan memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada.

"Revolusi industri yang ke-1 dan 2, Tiongkok enggak mengikuti, akhirnya jadi negara semi terjajah. Sampai 40 tahun lalu dia pulih sampai sekarang menjadi negara kedua di dunia. Perubahan teknologi selalu akan membawa satu harapan, kesempatan, ibaratnya air bisa mengambangkan kapal juga bisa menenggelamkan kapal," ujarnya.

Karena itu, dia menilai, sudah saatnya masyarakat Indonesia sensitif terhadap pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, tidak lagi hanya terbelenggu bagaimana mengembangkan teknologi digital yang telah hadir sejak 74 tahun lalu.

"Intinya kita di era digital ini perlu mengetahui bahwa semua ini harus kita teliti bagaimana gunakan teknologi dalam perdagangan dan bisnis kita," paparnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya