Air Mata Kiai NU Saat Ramadan di Frankfurt
- Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post
"Saya hanya ditanya, ‘Are you student? Setelah saya katakan, ‘I am student from Egypt’, visa saya langsung distempel, tanpa dikenai biaya," ujarnya.
Mutawakkil mengaku, benar-benar merasakan berkah Ramadan di negeri orang. Akhirnya ia berhasil menempuh studi selama 4 bulan di Universitas Leiden, Belanda.
"Di Al Azhar saya di Fakultas Syariah, sementara saat di Leiden saya belajar kriminologi Islam," ujarnya.
Dikatakannya, karena studi banding ke Belanda itu atas inisiatif sendiri, Mutawakkil pun harus menanggung biaya studi dan hidup dari koceknya sendiri.
Ketika uang yang tersisa 200 dolar habis untuk biaya perjalanan, di Belanda pun ia mencari kerja paro waktu. "Saya sempat menjadi pelayan restoran, untuk mendapat uang tambahan," ujarnya.
Dengan bekerja di restoran, ia juga memperoleh pengalaman berharga. "Saya melihat hubungan kerja antara buruh dan majikan harmonis, ternyata akhlak Islam ada di Barat, bukan di Timur Tengah, di mana sebagian majikan sering berperilaku kasar kepada pekerjanya," ujarnya.
Di tengah keasyikannya menuntut ilmu, ia dijemput pulang oleh sang ayahanda, KH Saifourridzal pada 1985. Sesampai di Probolinggo, ia langsung mengamalkan ilmunya di Pesantren Zainul Hasan.
Tak berselang lama, ibundanya, Nyai Hafshowati dan ayahndanya, Kiai Saifouridzal berpulang ke sisi Allah. Sejak itu pula ia memangku Pesantren Zainul Hasan hingga sekarang.
Tak berhenti di bangku kuliah, Mutawakkil hingga saat ini pun masih terus belajar. Mengasuh sekitar 20.000 santri, membuatnya harus selalu beradaptasi dengan kemajuan zaman. "Membaca buku menjadi makanan wajib, dari situ lah kita bisa terus mengisi hidup ini dnegan ilmu pengetahuan," katanya.
Peran dan pengaruh Kiai Mutawakkil pun tidak bisa dipisahkan dari nama besar pesantren. Pesantren yang dulu bernama Genggong ini sudah berusia 171 tahun atau didirikan sekitar tahun 1839 oleh almarhum KH Zainul Abidin dari keturunan Maghribi (Maroko) di Desa Karangbong, Kec. Pajarakan, Kab. Probolinggo.
Pesantren yang kini lebih dikenal dengan sebutan pesantren Zainul Hasan telah mengalami tiga kali pergantian nama. Semua perubahan itu dilandasi sejarah pertumbuhan pesantren dan adanya gagasan untuk mengabadikan para pendiri pesantren sebelumnya. Perubahan nama ini terjadi pada periode kepemimpinan KH. Hasan Saifourridzal.
Nama Pondok Genggong dipakai sejak kepemimpinan KH Zainul Abidin sampai kepemimpinan KH. Moh Hasan tahun 1952. Nama pesantren kemudian berganti menjadi 'Asrama Pelajar Islam Genggong'.
Pada tanggal 19 Juli 1959, dalam pertemuan dewan pengurus almukarom KH. Hasan Saifourridzal menetapkan perubahan nama menjadi Pesantren Zainul Hasan.