Lippo Akan Suntik Modal Bank Nobu
- Forbes
VIVAnews - Bank Indonesia (BI) mengatakan Lippo Group sebagai pemilik baru Bank National Nobu telah memberikan komitmennya untuk menambah modal.
"Yang jelas, banknya harus jadi sehat, memperbesar sesuai rencana mereka. Modal itu harus minimal Rp100 miliar," kata Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, di gedung BI, Jakarta, Jumat 8 Oktober 2010.
Menurut Halim, saat ini Bank National Nobu tengah melakukan
persiapan pengembangan usaha. Dalam proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), pemilik telah memberikan komitmennya untuk membesarkan bank tersebut.
Seperti diketahui, Mochtar Ryadi melalui kelompok bisnisnya Lippo Group telah mengakuisisi 60 persen kepemilikan saham Bank National Nobu melalui PT Kharisma Buana Nusantara (KBN). Sementara itu, 40 persen saham dimiliki Yantony Nio, chief executive officer (CEO) Pikko Group.
Bank National Nobu pada awalnya bernama PT Bank Alfindo Sejahtera dengan saham yang dimiliki oleh Alfi Gunawan dan PT Gunawan Sejahtera.
BI menyetujui akuisisi tersebut pada pertengahan September 2010 dan menyatakan masuknya kembali Lippo Group sudah melalui tahapan yang berlaku.
Halim menjelaskan, secara umum, untuk mengakuisisi sebuah bank, harus mengikuti prosedur yang dipenuhi. BI juga telah mengumpulkan rekam jejak (track record) pengelolanya. Jika track record negatif dapat menjatuhkan penilaian.
"Proses fit and proper test tidak hanya 1-2 jam, bisa juga tahunan" katanya.
Jika bankir tidak lolos fit and proper test, tidak akan diproses. Namun ketidaklulusan itu ada batas waktunya.
"Tidak berarti orang yang tidak lulus setelah lewat beberapa tahun langsung bisa jadi pemilik. Tapi artinya, hak dia, hak keperdataannya muncul kembali, karena ini bukan hak pidana," ujarnya.
"Ini hak keperdataan seseorang. BI tidak mungkin bisa menghilangkannya. Ini bukan menyangkut individual seseorang."