OC Kaligis: Nazar Pernah Bertemu Busyro

Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqoddas
Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqoddas
Sumber :
  • Antara/ Prasetyo Utomo

VIVAnews - Meski tak berada di luar negeri dan kini meringkuk di sel Rutan Mako Brimob, Muhammad Nazaruddin masih bisa 'bernyanyi'. Kali ini sasarannya, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Busyro Muqoddas.

Kuasa hukum Nazaruddin, OC Kaligis mengungkapkan, Nazaruddin menyatakan pernah bertemu dengan Busyro Muqoddas sebelum pemilihan Ketua KPK.

Dia mengatakan, Busyro bertemu dengan Nazar untuk menjalin lobi karena waktu itu yang santer disebut menjadi calon Ketua KPK pengganti Antasari Azhar bukan Busyro.

Saat itu Nazaruddin adalah anggota Komisi III DPR yang membidangi masalah hukum. "Dia [Nazaruddin] berani bersumpah," kata OC Kaligis usai menjenguk Nazaruddin di Markas Komando Brigade Mobile Kepala Dua, Jakarta, Sabtu 20 Agustus 2011.

Menurut Nazar, sikap berbeda ditunjukkan Abdullah Hehamahua, penasehat KPK. Menurut OC Kaligis suatu saat Nazar ingin duduk berdampingan dengan Abdulah. Kaligis tak menjelaskan dalam konteks apa keinginan Nazar duduk berdampingan dengan Abdullah.

Yang pasti Abdullah menolak duduk berdampingan dengan Nazar.  "Pokoknya dia nggak mau ketemu [Nazar]," kata OC Kaligis.

Pengacara gaek itu menyatakan akan membongkar soal ini semua. "Nah saya akan bilang mengenai hal itu," kata dia.

OC Kaligis sempat bertanya kepada Nazar mengapa dia takut diperiksa KPK. Menjawab pertanyaan Kaligis, Nazar mengatakan, dia tidak takut dengan KPK.

Busyro Muqoddas ketika dimintai konfirmasi membantah apa yang dikatakan Nazar melalui pengacaranya. "Saya tidak  pernah ketemu sedetik pun dengan Nazar menjelang  fit and proper test pimpinan KPK. Selama uji kelayakan dan kepantasan sampai siang ini, tak bertemu," kata Busyro kepada VIVAnews.com, Sabtu 20 Agustus 2011.

Busyro menganggap, apa yang dikatakan Nazar sebagai igauan, ngelindur. "Semua penilaian dari pesakitan, Nazar kan pesakitan."

Mantan Ketua Komisi Yudisial (KY) itu menambahkan, surat dari Nazaruddin yang ditujukan pada SBY sebenarnya adalah petunjuk yang menarik. "Itu kan sebuah surat yang sifat dan tujuannya sangat politis. Mengalihkan kasus ini pada politik," kata Busyro.

Sebab, tambah dia, presiden adalah simbol politik.  "Pertanyaan, di balik itu, apakah pengacaranya tidak  tahu, apakah pengacara tidak menyarankan bahwa surat kepada Presiden bisa menyalahi prosedur?"

Apalagi, dalam surat tersebut, Nazar menyatakan siap dihukum tanpa proses persidangan.  Busyro menambahkan, pengacara seyogyanya memberikan nasehat. "Aspek moralnya harus kuat, kejujuran berdasarkan fakta dan  prosedur. Apakah itu telah dilakukan OC Kaligis pada kliennya?," tambah dia.