Tiga Wanita Pemenang Nobel Perdamaian 2011

Aktivis wanita Liberia peraih Nobel perdamaian, Leymah Gbowee
Aktivis wanita Liberia peraih Nobel perdamaian, Leymah Gbowee
Sumber :

VIVAnews - Penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini mencatat sejarah baru, karena diberikan sekaligus kepada kepada tiga orang wanita asal Afrika dan Timur Tengah. Mereka bertiga adalah para pejuang perdamaian di negara masing-masing.

Menurut stasiun berita Fox News, penghargaan Nobel perdamaian diberikan kepada Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf, aktivis Liberia Leymah Gbowee, dan jurnalis wanita Tawakkul Karman, pada Jumat 7 Oktober 2011.

Komite Nobel di Norwegia mengatakan bahwa ketiga wanita ini berhak mendapatkan penghargaan Nobel perdamaian atas perjuangan tanpa kekerasan mereka untuk hak-hak perempuan.

Ellen Johnson-Sirleaf, 72, adalah ahli ekonomi lulusan Harvard yang menjadi presiden wanita pertama di Afrika yang terpilih secara demokratis pada tahun 2005. Dia dianggap sebagai reformis dan pencipta perdamaian di Liberia saat menjabat.

Liberia menderita akibat perang saudara selama bertahun-tahun yang baru berhenti pada 2003. Johnson-Sirleaf dinilai berhasil menjaga perdamaian dan memfasilitasi kedua kubu yang bertikai.

Wanita kedua yang mendapatkan hadiah Nobel perdamaian adalah Leymah Gbowee. Dia adalah pendiri kelompok wanita Muslim dan Kristen untuk melawan tuan tanah Liberia. Karena jasanya membentuk karakter perempuan yang berani, Gbowee pada 2009 mendapatkan penghargaan Profile in Courage, sebuah penghargaan untuk keberanian.

Penerima hadiah Nobel lainnya, Tawakul Karman, 32, ibu dari tiga orang anak. Dia adalah seorang wartawan yang mendirikan organisasi Jurnalis Tanpa Rantai, sebuah badan HAM untuk para jurnalis. Karman terkenal karena perannya sebagai salah satu pemimpin dalam protes menggulingkan Presiden Ali Abdullah Saleh.

"Kita tidak akan meraih demokrasi dan perdamaian yang berkesinambungan di dunia ini, kecuali wanita mendapatkan kesempatan yang sama seperti lelaki dalam membangun setiap tingkat masyarakat," kata salah satu panitia Nobel.