Film Jackie Chan Terlalu Keras Untuk China

VIVAnews - Film terbaru Jackie Chan 'Shinjuku Incident' dilarang beredar di daratan China. Film teranyar Jackie tersebut disebut mengandung terlalu banyak unsur kekerasan. Sang sutradara Derek Yee memutuskan tidak merilis film tersebut di China.

Yee menjelaskan, Ia mempertimbangkan memperhalus 'Shinjuku Incident' agar bisa lolos sensor di negara komunis itu. Tapi, Yee mengurungkan niatnya dengan klaim film itu bergenre drama. Ia pikir integritas film  akan hilang nantinya.

"Kami mencoba memotong adegan kekerasan untuk bisa memenuhi pasar di China. Saya mengundang produser melihat hasil pemotongan. Produser bilang, versi itu tidak lengkap," kata Yee seperti VIVAnews kutip dari Associated Press, Rabu 18 Februari 2009.

Yee bilang, Jackie Chan yang juga salah satu produser film setuju dengan keputusannya.     
     
China tidak memiliki sistem rating. Akibatnya, film di China ditonton tanpa ada batasan umur. Badan sensor China khawatir dengan isi film 'Shinjuku Incident' yang sensitif dari aspek politik. Seperti, isu Tibet atau kekerasan militer terhadap para demonstran pada peristiwa Lapangan Tiananmen pada 1989.

Lebih lanjut, Yee bilang, Ia tidak khawatir dengan setting film yang bertempat di Jepang, isu sensitif lain di China. "Bagi kami, masalahnya sebatas kekerasan," ujar Yee. Hubungan China dan Jepang menjadi tegang lantaran pendudukan secara brutal tentara Jepang di China pada Perang Dunia II.

Contoh lain, film 'Memoirs of a Geisha' tidak jadi dirilis di China. Alasannya, lakon aktris China Zhang Ziyi dan Gong Li yang memotret kehidupan penghibur Jepang dapat menyinggung penonton.  

Tapi, sutradara 'Shinjuku Incident' menyadari, penonton di China dan Asia merupakan potensi besar yang dapat menghasilkan jutaan dollar AS. 'Shinjuku Incident' akan rilis di Hongkong dan Asia Tenggara pada 2 April, dan di Jepang 1 Mei mendatang.