Mengenal Tonggak Sejarah Satelit Indonesia
- space.com
Buatan Indonesia
Pada 2006, satelit pertama buatan Indonesia, INASAT-1 diluncurkan. Satelit ini merupakan satelit metodologi penginderaan untuk memotret cuaca buatan LAPAN. INASAT-1 menggunakan komponen elektronik berukuran kecil, dengan berat sekitar 10-15 Kg. Kehadiran satelit ini dirancang untuk mengumpulkan data yang berhubungan erat dengan data lingkungan maupun rumah tangga yang digunakan untuk mempelajari dinamika gerak serta penampilan sistem satelit.
Satelit ini dirancang bersama oleh PT.Dirgantara Indonesia dan LAPAN. Dari segi dinamika gerak akan diketahui melalui pemasangan sensor gyrorate tiga sumbu. Sehingga dalam perjalanannya akan diketahui bagaimana perilaku geraknya. Penelitian dinamika gerak ini menjadi hal yang menarik untuk satelit-satelit ukuran Nano yang terbang dengan ketinggian antara 600-800 km.
LAPAN tidak berhenti di situ saja. Bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin), LAPAN membuat satelit LAPAN-TUBSAT. Ini adalah satelit mikro pertama Indonesia. Wahana yang dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, dan menyertakan sensor bintang yang baru.Â
Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 cm ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.
LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer.
Pada 2009, PT Media Citra Indostar (MCI) yang mengelola dan mengoperasionalisasi satelit Indovision meluncurkan Indostar II atau Cakrawarta II.
Satelit ini diluncurkan dengan menggunakan roket peluncur Proton-Briz milik Rusia dan lepas landas melalui Baikonur Cosmodome di Kazahkstan. Peluncuran satelit Indostar II ini terjadi pada tanggal 16 Mei 2009. Kehadiran Satelit Indostar II ini adalah untuk menggantikan Satelit Indostar I (Cakrawarta 1) yang telah sebelas tahun melayani Indovision dan habis masa orbitnya pada tahun 2008.
Melenceng
Pada 2009, Indosat meluncurkan satelit Palapa D dari Xichang Satellite Launch Center (XSLC) menggunakan roket Long March (Chang Zheng) 3B. Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space, Perancis, dan dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa C2 pada Orbit Geostasioner slot 113º BT yang akan selesai masa operasionalnya pada tahun 2011.
Walaupun diluncurkan dari Cina, pusat kendali satelit tetap berada di Stasiun Bumi Jatiluhur, di Purwakarta, Jawa Barat yang dimiliki Indosat.
Roket peluncur satelit ini sempat mengalami kegagalan dalam menempatkan Palapa D pada orbitnya. Namun pihak Thales Alenia mengendalikan satelit tersebut dan mengembalikannya ke jalur orbit aslinya. Meski sukses, operasi satelit Palapa D berkurang menjadi 10 tahun dari usia 15 tahun yang direncanakan.
Awal pekan ini, Satelit Telkom-3 yang diproduksi ISS Reshetnev Rusia gagal mencapai orbit dan menghilang. Satelit yang diluncurkan dari Cosmodrome Baikonur di Kazakhstan dengan menggunakan roket Proton-M.
Sedianya Satelit Telkom-3 ini direncanakan mengorbit bumi selama 15 tahun dengan membawa 42 transponder yang terdiri dari 32 transponder C-Band dan 10 transponder Ku-Band dengan massa 1,6 ton dan berdaya 5,6 Kilo Watt. (berbagai sumber)