Stimulus Fiskal Tahap Kedua Setelah Mei

VIVAnews - Pemerintah baru bisa memutuskan pengucuran stimulus tahap kedua setelah Mei mendatang. Pertimbangannya, untuk menaikkan porsi stimulus, pemerintah harus melihat dulu laporan kondisi ekonomi terbaru Indonesia.

Menurut Staf Khusus Menteri Keuangan Chatib Basri di Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian tadi malam, Senin, 16 Maret 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan semakin menurun. Akan tetapi persoalan berapa besarnya, masih harus melihat lagi.

"Kemungkinan risiko terkoreksi ke bawah memang sangat besar," ujar Chatib. Namun lanjutnya, penyesuaian ini hanya bisa dilakukan setelah Mei 2009, sehingga kebutuhan akan stimulus pun baru bisa diketahui saat itu.

Stimulus fiskal itu, katanya, bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang masih besar, stimulusnya tidak perlu besar. Berbeda dengan negara yang punya masalah pertumbuhan ekonomi negatif.

"Pada Mei nanti kita akan tahu GDP kuartal I 2009, disesuaikan atau tidak dalam APBN P baru melihat stimulus fiskal yang sekarang besarnya 1,4 persen dari GDP. Jika pertumbuhan penyesuaiannya terlalu tinggi, maka stimulus harus naik," katanya.

Akan tetapi risiko ini diyakini berdampak kecil bagi ekonomi Indonesia karena 65 persen kegiatan ekonominya ditentukan oleh konsumsi domestik.

Kenyataan ini, menurut Chatib, akan berbeda kondisinya jika dibandingkan Singapura. Pada tahun ini saja stimulus yang diluncurkan di negara ini lebih besar dari 2 persen karena pertumbuhan ekonominya negatif akibat eksposur ekspor terhadap GDP yang tinggi mencapai 230 persen.

Untuk stimulus tahap pertama, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 73,3 triliun. Sebagian dikucurkan lewat kementerian/lembaga, sebagian lagi lewat stimulus pajak.