Mahasiswa Pengembang Rumah Murah

VIVAnews - Setelah mengembara di beberapa tempat dan mengecap ragam pekerjaan, bisnis pengembang perumahan menjadi pilihan Elang Gumilang. Tak banyak anak muda, apalagi yang masih bergelut dengan buku sebagai mahasiswa, mau terjun ke dunia yang dikenal keras. Niatnya satu, membantu masyarakat memiliki rumah dengan harga terjangkau.

Naluri bisnis menyala sejak kecil dalam hati Elang. Pemuda kelahiran Bogor 23 tahun lalu ini sempat merasai melompat-lompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Membuat donat dan menjualnya keliling, menjadi tukang minyak goreng, jualan bohlam lampu, menjadi segelintir pengalamannya meniti bisnis.

“Sejak SMA, saya sudah mencoba belasan pekerjaan sebelum akhirnya memutuskan di bisnis properti,” urai Elang, kepada VIVAnews, akhir pekan waktu lalu.

Elang berfikir, masih banyaknya masyarakat yang tidak memiliki rumah sendiri. Tentunya, karena harganya yang terlalu mahal. Lantas kondisi ini dijadikan sebagai peluang. “Ada 75 juta penduduk kita yang membutuhkan rumah. Sambil sebagai ibadah membantu orang juga,” katanya.

Setelah melalui pertimbangan mendalam, Elang akhirnya terjun ke dunia properti. Awal 2005 Elang mulai bergerak. Bermodal kepercayaan, dan tentu saja patungan modal dari teman-temannya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mulai membeli sepetak tanah dan membangun rumah pertamanya.

Rumah sederhana berukuran 22 meter persegi dengan luas tanah 60 meter persegi (tipe 22/60) lahir pertama kali. Langsung berpindah tangan ke pemilik baru. “Modalnya cukuplah dari hasil kumpul-kumpul dengan teman dari SMA dan kuliah,” katanya soal awal usahanya.

Rumah Murah Rp 23 Juta - Rp 33 Juta
Berbenderol Rp 23 juta per unit, harga rumah ini diperuntukkan kalangan masyarakat menengah ke bawah . Sembari mengenang, jumlah pekerja yang bersamanya pun masih segelintir orang, sekitar tujuh orang untuk mengurusi administrasi hingga pemasaran.

Bangun bertumbuh dari satu unit menjadi tiga unit hingga kini ia berhasil membangun 200 unit rumah. Targetnya, Elang bisa membangun 2.000 unit rumah sederhana di bawah bendera perusahaan Semesta Guna Grup, miliknya.

Pemuda yang sempat berpindah-pindah dari Sukabumi, Bandung, dan kini menetap di Bogor ini semakin menajamkan intuisinya mengenai kebutuhan perumahaan. Dugaannya tak salah, dalam setahun saja investasi yang ditanamkan naik berlipat. Nilai jual objek pajak (NJOP) tanah yang tadinya hanya Rp 50 ribu misalnya, dalam setahun menjulang hingga lima kali lipat.

Di Cilebut dan Cinangka Kabupaten Bogor saja, sudah puluhan hektare ia bebaskan untuk membangun ratusan unit perumahannya. Bahkan, kini ia percaya diri menyediakan perumahaan dalam skala besar. Elang juga mendapatkan kontrak membangun 500 unit perumahan untuk karyawan sebuah perusahaan di Cilebut. 

Sementara kawasan perumahan yang dibangun untuk umum 300 unit di Cinangka tak tersisa barang satupun alias sold out. Omzet per bulan yang Elang nikmati kini cukup membuat orang tercengang. Tak kurang dari Rp 20 miliar per tahun dapat ia bukukan. Belum lagi dari kontrak pre periodik terbarunya menambah Rp 80 miliar hingga Rp 100 miliar ke bisnisnya.

Bisnisnya yang berpusat di dekat Kampus IPB, tepatnya Jalan Raya Darmaga Nomor 31 ini, kini merambah dan mempekerjakan orang hingga ratusan karyawan setiap proyeknya. Tak kurang dari 30 tenaga adminitrasi dan 100 pekerja di setiap proyek siap membantunya. 

Pertahankan Kepemilikan 40 Persen
Usia perusahaan yang masih belia serta kondisi yang belum stabil menjadi salahsatu batu sandungan usahanya. Kekurangan modal dan masyarakat sekitar terkadang membuatnya memeras otak mencari jalan keluar. Untunglah, naluri bisnis membuatnya tak kehabisan akal.

Bila terbentur persoalan dana, Elang akan mencari penyandang dana dengan sistem bagi hasil. “Kebetulan latar pendidikan saya dari ekonomi, sedikit-sedikit tahu jurusnya,” katanya. Meskipun demikian, ia tetap mempertahankan komposisi kepemilikan sebesar 40 persen. 

Naiknya harga bahan baku membuatnya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian. Bila dahulu Elang melepas satu unit rumah sederhana seharga Rp23 juta per unit, sekarang rencana anggaran biaya (RAB) mencapai Rp33 juta per unit . Dengan jumlah itu baru bisa menutupi biaya produksi sekaligus memberi keuntungan.

Untunglah bergerak di bidang perumahan rakyat membuat konsumennya mendapat bantuan kredit perumahan pemerintah. “Peminat tak terpengaruh dan masih banyak orang yang mencari,” katanya tersenyum. 

Masalah premanisme dan penolakan dari masyarakat sekitar sempat menjadi batu sandungan dalam memperluas bisnisnya. Di sinilah, kata Elang, peran sebagai bagian masyarakat punya kuasa menolong. Tak jarang, pendekatan personal yang dia lakukan bersama timnya membuahkan pengertian dan bantuan dari masyarakat. 

Kini, selain mengurusi bisnisnya, Elang sibuk mengejar gelar Sarjana Ekonomi. Bercita-cita membangun lebih banyak perumahan bagi khalayak menengah ke bawah. Pemuda yang di sela-sela kesibukannya banyak diundang menjadi pembicara dalam seminar juga mulai melebarkan perusahaannya ke bidang lain seperti pengadaan minyak goreng dan berbagai produk UKM.

Dalam berbagai kesempatan, ia menularkan motto memulai bisnis. “Lihat peluang yang belum terpikirkan orang lain dan ikuti aturan yang ada, insyaallah berhasil.”