Kerugian Banjir dan Longsor di Sulawesi Utara Telan Rp1,87 Triliun

Warga dievakuasi dari terjangan banjir di Manado
Warga dievakuasi dari terjangan banjir di Manado
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar

VIVAnews - Banjir bandang dan longsor yang terjadi Sulawesi Utara, Rabu 15 Januari 2014, meninggalkan kepedihan yang mendalam. Bencana ini mengakibatkan 19 tewas, 15 ribu orang mengungsi, dan kerugian hingga Rp1,87 triliun.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, Minggu 19 Januari 2014, mengatakan bencana ini juga berdampak pada 90 ribu jiwa dengan korban meninggal yang tersebar di sejumlah wilayah.

Diketahui, bencana terjadi di delapan kabupaten/kota yakni, Manado, Tomohon, Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Sitaro.

"Di Manado 6 orang, di Tomohon 6 orang, Minahasa 6 orang, dan 1 orang di Minahasa Utara. Korban luka yang dirawat inap ada 27 orang dan 706 orang yang melakukan rawat jalan," ujar Sutopo dalam rilis yang diterima VIVAnews.

Ia mengatakan, bencana ini terjadi karena hujan deras yang mengguyur Manado sejak 13 Januari 2014. Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano yang normalnya hanya menampung hingga kurang dari 50 mm/hari, meluap hingga 230 mm/hari.
Begitupun dengan DAS Tomohon yang mencapai 200 mm/hari. Permukiman di daerah kemiringan dan bantaran sungai juga turut mempengaruhi.

Banjir tidak hanya menggenangi rumah warga, tapi juga sekolah hingga kantor kantor pemerintahan di Manado. Kerugian dan kerusakan akibat bencana diperkirakan mencapai Rp1,87 triliyun, meliputi kerusakan rumah, fasilitas umum, pertanian, peternakan, kantor, dan infrastruktur.

Tergenang Lumpur

Hingga saat ini, listrik di beberapa lokasi kota Manado masih padam karena gardu tergenang lumpur.

Meski banjir sudah mulai surut, dapur umum dan pencarian korban longsor masih terus berlanjut. Begitupun dengan pos pelayanan kesehatan yang terletak di 40 titik dan pos pelayanan logistik di 2 titik.

"Pencarian korban terus dilakukan, terutama di Tinoor dan Tomohon," ujarnya.

Sutopo menekankan bahwa saat ini pengiriman bantuan difokuskan pada alat untuk membersihkan lumpur, alas tidur, paket kesehatan, pakaian, perlengkapan memasak dan air bersih.

Sayangnya, pesawat Hercules yang mengirimkan bantuan logistik serta peralatan dari BNPB, Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan, terpaksa harus berhenti di Balikpapan setelah gagal mendarat di Manado. (ren)