Habis Rp600 Juta, Porter Golf Ini Gagal Jadi Wakil Rakyat

Muhammad Agus
Muhammad Agus
Sumber :
  • VIVAnews/Zahrul Darmawan (Depok)

VIVAnews - Muhammad Agus kini hanya bisa gigit jari. Impian pria 37 tahun itu menjadi calon legislatif kandas, padahal dia sudah menguras tabungan yang semula akan dipakai untuk naik haji.

Ditemui di kediamannya, Jalan Raya Tapos, RT 02 RW 11 nomor 6, Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos Depok, Agus tampak lesu. Bahkan, Nining, istri Agus masih syok lantaran uang Rp600 juta kandas begitu saja, tanpa ada hasil.

“Tanah saya, tabungan saya dan istri habis. Uang yang saya tabung untuk pergi haji dan menyekolahkan anak di UI juga sudah terpakai," kata dia kepada VIVAnews, Rabu 16 April 2014.

Meski demikian, dia masih bersyukur karena tak punya utang. Semua uang yang dia habiskan untuk kampanye itu murni uang yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun sebagai porter golf. "Dan hasil menjual tanah," kata dia lirih. Sehari-hari, Agus memang bekerja sebagai porter di Emeralda Golf, Cimanggis, Depok.

Semula, Agus dan keluarganya begitu yakin bisa menjadi wakil rakyat di DPRD Depok. Dengan uang tabungannya, Agus pun berkampanye dan membeli segala macam alat peraga untuk meyakinkan pemilih di daerah pemilihannya. "Saya yakin betul warga di sini dukung saya karena saya kenal dekat dengan mereka," kata caleg Partai Amanat Nasional (PAN) nomor urut 7 itu.

Selama kampanye, dia mengaku tak melancarkan politik uang atau serangan fajar. "Eh enggak tahunya, karena itu saya kalah. Semuanya kandas begitu saja setelah ada seseorang yang melakukan serangan fajar jam 3 subuh," kata dia.

Orang itu, imbuhnya, menyawer uang Rp50 ribu sampai Rp100 ribu ke pemilih di dapilnya. "Tak perlulah saya sebut nama dan dari partai mana dia berasal,” katanya.
          
Tak Ingin Menyerah

Ada satu alasan mengapa Agus ngotot maju jadi calon wakil rakyat, yakni ingin memajukan tempat kelahirannya di Tapos. Sebetulnya, kata dia, ada tiga program yang akan dia laksanakan jika bisa menjadi anggota DPRD.

Pertama, segi pendidikan. "Saya ingin putra-putri Tapos bisa menikmati pendidikan di sekolah kejuruan. Karena selama ini hanya 25 persen warga asli Tapos sekolah di situ," kata dia.

Kedua, kesehatan. Agus ingin Tapos punya rumah sakit layak seperti di kecamatan lain. Dan ketiga, dia juga ingin membuka lapangan pekerjaan bagi para petani karena lahan di sana sudah habis untuk kepentingan industri, properti, dan jasa.

"Tapi apa daya, kejujuran kalah dengan kezaliman, doa seakan sudah tidak mempan. Saya khawatir, jika yang terpilih adalah orang luar tentu dia tidak akan paham tentang wilayah ini,” kata pria yang baru saja menamatkan pendidikan sarjananya di Universitas IMI, Jakarta Selatan itu. 

Meski terpukul, Agus mengaku tak ingin berputus asa. Ia berencana akan kembali bekerja dan menghidupkan sebuah lembaga kemasyarakatan yang tujuannya untuk membantu para yatim, janda, dan mereka yang putus sekolah.

Untuk menjauhkan diri dari stres, Agus menyibukkan diri dengan pekerjaan yang dia tinggal cuti selama berkampanye dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. “Insya Allah saya dan keluarga tegar dan kuat menghadapi cobaan terberat dalam hidup saya ini. Dan jika diizinkan lagi, saya akan kembali maju lima tahun lagi sebagai caleg. Tapi entah dari partai mana, ya kita lihat nanti,” ujarnya. (eh)