Mengenang Maestro Idris Sardi
Senin, 28 April 2014 - 11:11 WIB
Sumber :
- VIVAnews/Muhamad Solihin
VIVAlife - Pemain biola Idris Sardi meninggal dunia dalam usia 75 tahun, Senin, 28 April 2014. Ia meninggal dunia setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Meilia Cibubur.
Baca Juga
Semasa hidupnya, pria kelahiran 6 Juni 1983 ini telah menghasilkan ratusan karya, mulai dari komposisi musik hingga album dari gesekan biolanya.
Baca Juga
Musik bukanlah hal baru bagi Idris. Ayahnya, M Sardi adalah pemain biola. Tak heran, sejak kecil, Idris sudah tertarik dengan musik. Dari usia lima tahun, ayah aktor Lukman Sardi ini telah menekuni musik klasik.Â
Namun, baru di usia tujuh tahun, ia belajar biola dari ayahnya. Ia memang sangat mencintai musik. Di usia 10 tahun, ia pun sudah mendapat sambutan hangat saat tampil pertama kalinya di Yogyakarta.Â
Di usianya yang masih terbilang muda, Idris Sardi memutuskan untuk masuk ke Sekolah Musik Indonesia. Sebenarnya, sekolah itu menerima lulusan SMP atau sederajat, Namun, pada tahun 1952, usia Idris Sardi baru 14 tahun, dan belum lulus SMP.
Ia diterima karena pengecualian. Idris dianggap memiliki kemampuan bermusik yang luar biasa.Â
Di usia 16 tahun, Idris menggantikan sang ayah, tampil sebagai violis di Orkes RRI Studio Jakarta pimpinan Saiful Bahri.Â
Idris pun tertarik memainkan musik keroncong. Ia lalu melanggar aturan baku klasik. Jatuh bangun Idris dalam bermusik, akhirnya membawa nama besar untuknya di dunia musik.Â
Meski demikian, pria berkacamata ini dikenal sederhana dan rendah hati. Kesuksesan yang diraihnya tak membuatnya sombong. Bahkan, Idris enggan disebut 'maestro'.
Diakui Idris, sebutan maestro membuatnya terbebani. Ia merasa ruangnya menjadi terbatas dengan sebutan maestro tersebut. Ia mengaku disiplin yang kuat menjadi kunci kesuksesannya.
Karya dan prestasi Idris Sardi
Kemampuan musik mantan suami Marini Soerjosumarno ini tidak hanya di atas panggung. Gesekan biolanya juga mengisi beberapa film layar lebar Indonesia. Alunan musik biola Idris sempat mengisi film berjudul Petir Sepandjang Malam tahun 1967. Berkat mengisi ilustrasi di film tersebut, Idris berhasil meraih Piala Citra.Â
Tak hanya berjaya di tanah air, Idris juga berhasil meraih Piala di Festival Film Asia 1970. Ia berhasil membawa kemenangan sebagai penata musik terbaik dalam film Bernapas Dalam Lumpur.Â
Halaman Selanjutnya