Mari Mengenal Boediono

VIVAnews- Mencuatnya nama Boediono sebagai kandidat kuat calon wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat sambutan positif dari pasar.

"Respons pasar akan semakin positif," kata Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia, Haryajid Ramelan.

"Saya kira itu pilihan logis di tengah krisis ekonomi,"  kata Ketua Ikatan Pegawai Bank Indonesia Edi Ediana Rae.

Pujian di atas memang bisa dimengerti. Walau tak memiliki basis massa di parlemen, tangan dingin Boediono di bidang ekonomi sudah teruji.

Berkat kinerjanya, pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 23 Februari 1943 ini sudah tiga kali menjabat menteri dalam tiga pemerintahan berbeda. Pertama dalam kabinet BJ Habibie, kedua kabinet Megawati Sukarnoputri, ketiga dalam kabinet Susilo Bambang Yudhoyono.

Menyelesaikan Doktor Ekonomi Bisnis di Wahrton School University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pria kalem dan pendiam ini mulai bergabung di kabinet sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional. Jabatan itu ditempuhnya selama setahun, 1998-1999.

Saat Gus Dur jatuh, Boediono masuk lagi kabinet. Kali ini dia duduk sebagai Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong pimpinan Megawati Soekarnoputri, 2001-2004. Di sini tangan dinginnya terlihat.   Selama menjabat, dia berhasil membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.

Saat itu, Boediono  berhasil menstabilkan kurs rupiah pada kisaran Rp 9000-an per dolar AS. Begitu pula dengan suku bunga berada dalam posisi yang merangsang kegiatan bisnis, sehingga pertumbuhan ekonomi naik secara signifikan. Tak mengherankan jika majalah Business Week (AS) sempat memberinya gelar tokoh yang kompeten di bidang keuangan.

Maka, ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai Presiden RI, dia meminta Boediono bergabung. Awalnya Boediono menolak, dengan alasan dia mau berada di luar kabinet. Namun akhirnya dia mau menjadi Menteri Kordinator Perekonomian.

Jabatan itu terus diemban Boediono sampai Bank Indonesia membutuhkan Gubernur BI yang kredibel. Sebab Gubernur BI saat itu,  Burhanuddin Abdullah, tengah terjegal kasus aliran dana BI. Maka, Boediono pun terpilih secara aklamasi menjadi Gubernur BI.

Setelah berpisah dengan Jusuf Kalla, Yudhoyono agaknya memang memerlukan orang kuat di bidang ekonomi. Maka nama Boediono mulai dilirik.

Menurut Andi Mallarageng, nama Boediono itu diputuskan setelah Partai Demokrat melakukan survei terutup. Setelah survei itu, Boediono di panggil ke Cikeas.

Sumber VIVANews menuturkan Boediono sudah sekitar  tiga kali dipanggil ke Cikeas oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Semula, kata sumber itu, Boediono amat terkejut dan belum percaya kalau SBY memilihnya sebagai Cawapres.

Pada panggilan kedua, Boediono baru terlihat lebih tenang. Sumber VIVANews memastikan pada Jumat malam pekan lalu, sesaat setelah menerima Puan Maharani, Pramono Anung dan Tjahjo Kumolo dari PDI Perjuangan, Boediono dipanggil lagi ke Cikeas.

Dalam pertemuan itu, SBY mempertemukan Boediono dengan sejumlah petinggi Demokrat. Setelah pertemuan itu, sumber VIVANews memastikan, "Nama Boediono sudah dilock Jumat malam itu."

Maksudnya dilock adalah  tidak mungkin berubah lagi, walau ada penolakan dari sejumlah partai politik dan unjuk rasa  besar-besaran. Dan memang itu yang terjadi. Setelah nama Boediono diberitahukan ke sejumlah partai, mereka menolak. Unjuk rasa menolak Boediono memacetkan jalan-jalan di sekitar Istana.