Fakta Ilmiah tentang Patah Hati

Patah hati
Patah hati
Sumber :
  • iStock

VIVAlife - Memiliki hubungan yang indah lalu tiba-tiba berpisah akibat pasangan berkhianat adalah hal yang menyakitkan. Jantung terasa seperti diremas, dunia terasa gelap. Semua serba salah. Bukan hanya hati Anda yang terasa luka, tubuh pun ikut nyeri dan ngilu di berbagai tempat. Apa yang sebenarnya terjadi?

Secara teori, hati tidak mungkin patah. Semua rasa sakit yang Anda rasakan, ditambah pudarnya keinginan untuk beraktivitas dan hanya ingin mengasihani diri sendiri, sebenarnya bersumber di kepala. 

Alasannya, secara alami, otak manusia tidak menyukai penolakan. Saat Anda dikhianati atau mengalami penolakan, area otak yang merespons sama dengan area yang akan terstimulasi ketika mengalami sakit secara fisik. 

Kesimpulan tersebut didapatkan psikiater Dr Marcelle Stastny, dalam sebuah penelitian. Dengan kata lain, otak mengatakan pada tubuh, penolakan dan pengkhianatan itu menyakitkan. Sebaliknya, saat Anda jatuh cinta, otak memerintahkan tubuh mengeluarkan dopamin dan oksitosin, dua hormon yang memberikan rasa bahagia.  

"Di sisi lain, saat perasaan cinta iu hilang, persediaan dopamin dan oksitosin dalam tubuh menyusut dan membuat otak lebih banyak memproduksi hormon penyebab stres, seperti kortisol," terang Statsny, dilansir Health24

Dalam keadaan normal, otak mengeluarkan hormon stres sebagai "bahan bakar" mengatasi keadaan darurat atau mengancam, yang akan membuat tubuh bekerja lebih cepat dan reaktif. Namun, di sisi lain, organ yang memproduksi hormon stres tersebut tidak bisa membedakan rangsangan yang mengancam secara fisik atau emosional. Padahal, ancaman emosional, seperti patah hati, umumnya bertahan lebih lama daripada ancaman fisik. 

Imbasnya, otak akan terus-menerus memproduksi hormon kortisol dan membuat tubuh mengakumulasi hormon stres tersebut. Hal ini, bisa berbahaya bagi kesehatan. Tingkat hormon kortisol yang tinggi dalam tubuh, akan membuat otak mengirim lebih banyak darah ke otot untuk bersiap menghadapi aksi cepat. Padahal, Anda tidak bersiap untuk berkelahi atau berolahraga.