Laboratorium Gubuk Penghasil Energi Alternatif (I)

Laboratorium sederhana milik Haryono untuk produksi bioethanol.
Laboratorium sederhana milik Haryono untuk produksi bioethanol.
Sumber :

VIVAnews - Bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi harganya terus merangkak naik, tak peduli siapa pun Presidennya. Buktinya, Selasa 18 November 2014 lalu, harga BBM kembali naik.

Tetapi, jangan lantas pasrah menghadapi kenyataan. Tengoklah warga di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka membuat bahan bakar minyak alternatif berupa bioethanol.

Memanfaatkan panen jagung yang melimpah, sejumlah warga di kecamatan itu sudah bisa menikmati bioethanol dengan gratis, sebagai bahan bakar pengganti LPG (gas alam cair) hingga bahan bakar pengganti bensin.

Berikut ini, VIVAnews akan menyajikan perjalanan warga dalam menciptakan energi alternatif tersebut.  

Laboratorium dinding bambu

Siang itu, Haryono, warga Dusun Krajan Lor, Desa Gedangan, Kecamatan Gedangan, tengah sibuk mengukur kadar alkohol dalam bioethanol yang ada di bekas botol air minum dalam kemasan (AMDK) ukuran 1500 mililiter.

Lelaki berusia 43 tahun ini tampak lihai memanen bioethanol di "laboratorium" sederhana, di belakang halaman rumahnya. "Laboratorium", alias Kebun Plasma itu berupa bangunan 3x4 meter, berdinding bambu dan beralas tanah.

Di samping Haryono, terdapat tiga tong aluminium yang berdiri di atas tungku api. Dari selang yang ada di dasar tong itulah, tetesan bioethanol keluar sebagai hasil destilasi. Tetesan itu diwadahi dalam botol bekas AMDK.

Sudah satu bulan terakhir, dia memproduksi bioethanol dari biji jagung yang dipanen dari ladangnya. Bioethanol produksinya terdiri dari berbagai kadar. Ada yang 73 persen, 83 persen, 92 persen hingga 96 persen. Artinya, bioethanol yang dihasilkan masih mengandung air serta methanol yang tidak aman untuk dikonsumsi.

Setelah disuling dua kali, bioethanol dengan kadar 70 persen bisa dikonsumsi.

Bioethanol dengan kadar tersebut juga dijual ke pasaran. Haryono melabeli produknya dengan merek, Sumawethanol.  Dijual untuk obat oles dan pengencer darah, diabetes, kencing manis dan darah tinggi. Harganya Rp15 ribu per 240 mililiter.

Sementara itu, bioethanol kadar 92 persen dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti LPG oleh kelompok tani setempat. Caranya, cukup memodifikasi bentuk kompor. Bioethanol yang menetes bisa menghasilkan api sembur warna putih. 

“Satu liter bioethanol bisa untuk memasak nonstop selama empat jam,” kata Haryono kepada VIVAnews baru-baru ini. Bersambung... (asp)