IHSG Melonjak 60 Poin

VIVAnews - Pergerakan indeks bursa regional yang melesat dengan kenaikan hingga 11 persen tidak cukup kuat memberikan sentimen positif di pasar. Hingga akhir transaksi Kamis, 30 Oktober 2008, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya mampu menguat ke level 1.173,8 atau menguat 60,23 poin (5,4 persen).

Kenaikan indeks masih tertinggal dari rebound cepat yang terjadi di bursa utama Asia. Indeks Nikkei 225 di bursa Tokyo naik 817,86 poin (9,96 persen) ke posisi 9.029,76, Hang Seng Index terangkat 1.416,12 poin (11,15 persen) ke level 14.118,19, dan Straits Times naik 163,3 poin (9,77 persen) menjadi 1.834,5.

Saham-saham grup Astra masih mendominasi posisi top gainer dengan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Astra International Tbk (ASII) naik masing-masing 9,57 persen atau Rp 450 menjadi Rp 5.150 dan Rp 700 (9,85 persen) ke posisi Rp 7.800.

Selain itu, saham-saham pertambangan batu bara juga terangkat. Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp 400 (9,58 persen) menjadi Rp 4.575 dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp 550 (9,24 persen) menjadi Rp 6.500.

Transaksi saham senilai Rp 2,18 triliun dengan frekuensi 57.520 kali. Sebanyak 158 saham menguat, 29 melemah, dan 36 saham lainnya stagnan.

Analis PT Valbury Asia Securities Mastono Ali mengatakan, penguatan indeks karena sentimen kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$ 70 per barel. Kondisi itu memicu peningkatan harga komoditas, sehingga harga saham-saham tambang menguat.

"Penguatan indeks regional yang cukup signifikan ikut menopang pergerakan positif indeks," tegas dia kepada Vivanews di Jakarta.

Selain itu, pemangkasan suku bunga The Fed yang diikuti bank sentral Asia lainnya, seperti Cina dan Jepang juga mendorong pelaku pasar mengoleksi sejumlah saham unggulan.

Sementara itu, analis PT CIC Securities Willy Sanjaya menilai, indeks mulai menunjukkan arah bullish, meski masih menunggu waktu seiring kondisi bursa global yang masih fluktuatif. "Pelaku pasar masih akan merespons pemilu di Amerika Serikat bulan depan," jelas dia.

Namun demikian, dia mengingatkan agar investor yang mulai mengakumulasi sejumlah saham untuk tidak berorientasi investasi jangka panjang. "Sebaiknya bertransaksi jangka pendek dulu sambil mencermati kondisi bursa global dan regional," lanjut dia.

Willy juga menambahkan, mulai bergairahnya kembali pasar saham diharapkan disikapi otoritas bursa dengan membuka batas atas auto rejection lebih dari dari 10 persen. "Di bursa regional, kenaikan harga saham sudah lebih dari 10 persen, sedangkan di dalam negeri tertahan auto rejection," imbuh dia.