Berawal Kawat Bekas, Jadi Bisnis Ratusan Juta

VIVAnews - Pagi itu, matahari mendung. Namun belasan orang sudah sibuk memotong-motong kawat. Lima orang yang lain, sibuk dengan bahan kimia. Mereka tak lain karyawan Joko Ibrahim, laki-laki 30 tahun yang memiliki usaha pembuatan gantungan baju atau hanger.

Joko memulai bisnisnya tiga tahun lalu. Saat dia resah setelah beberapa kali pindah kerja. Sebenarnya, soal jabatan dalam kerja, Joko bisa mendapat posisi manager di sebuah proyek properti yang diraihnya tak kurang dari dua tahun.

Namun kegemilangan karir ini tak membuat Joko berhenti berusaha. Joko justru banting setir membuat usaha sendiri.

Pada 2007, Joko melihat gulungan kawat yang menumpuk di desanya, Ngunut, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur. Karena banyaknya kawat ini, dia terobsesi membuat sesuatu yang berguna. Pikiran kreatif akhirnya menemukan kawat itu dijadikan hanger atau gantungan baju. 

Coba-coba, akhirnya hanger itu jadi. Tak seberapa banyak, saat ia bikin kali pertama. Ia hanya mengandalkan keluarga dan tenaga sendiri yang waktu itu sudah memilih mengundurkan diri dari perusahaan properti.

Dengan modal Rp 10 juta yang digunakan untuk membeli kawat, bahan baku hanger, dan bahan kimia yang digunakan untuk mewarnai hanger kawat yang baru saja dibentuk hanger.

Mulanya, ia memasarkan di pasar-pasar sekitar desanya. Dengan harga yang relatif murah, gantungan baju dari kawat ini dia pasarkan Rp 8.000 per lusin. "Ini produksi awal yang kami buat," kata Joko kepada VIVAnews pekan lalu.

Setelah banyak pesanan, Joko pun tak mampu hanya mengandalkan tenaga keluarga. Dia lalu merekrut lima karyawan, tiga orang bertugas membentuk hanger dari potongan dan kawat. Satu karyawan lain, melapisi hanger dengan bahan kimia (proses chrome), serta satu karyawan lain bertugas menata dan membungkus hanger yang sudah jadi.

Setelah di kenal di pasar Ngunut, Joko akhirnya melebarkan sayap dengan memasok ke beberapa daerah sekitar Tulungagung. Setelah dikenal, pembeli akhirnya mendatangi rumah Joko.

Joko pun, kini tak hanya membuat hanger biasa. Dia juga membuat hanger yang lebih murah dengan menggunakan kawat yang lebih kecil. Biasanya, hanger jenis ini dipasarkan pada perusahaan-perusahaan jasa cuci pakaian (laundri). 

Tak hanya itu, ia juga membuat gantungan baju yang berasal dari kayu. Produk ini dijual Rp 42 ribu per lusin. Sedangkan hanger laundri hanya Rp 6.600 per lusin.


Melalui Internet
Kini Joko tak hanya memasarkan hanger dari mulut ke mulut. Joko, yang merupakan alumnus Institut Agama Islam Negeri Semarang angkatan 1998 itu mengubah promosi melalui dunia maya. Tak heran, jika saat ini penjualan bisa naik hingga 25 persen.

Melalui penjualhanger.multiply.com, ia mempromosikan dan memasarkan seluruh produk yang ia buat. Mulai hanger kelas bawah yang biasa digunakan perusahaan laundri hingga gantungan baju.

Sebagian transaksi yang dilakukan Joko saat ini melalui online. Pembeli melakukan pemesanan melalui email maupun telepon, lalu barang dikirimkan setelah pembeli melakukan pembayaran melalui transfer. Barang akan dikirim ke alamat pembeli tanpa dipungut ongkos kirim untuk penjualan tertentu.

"Saya baru merasa, betapa dahsyatnya jualan hanger lewat internet. Hasilnya lumayan," katanya.

Sebelum melalui internet, Joko mengaku harus mendatangi calon pembeli satu per satu. Hasilnya pun tidak optimal. Karena dalam satu hari, joko hanya mampu 2-3 calon pembeli.

Namun seteleh melalui multiply, dalam sehari, Joko bisa melayani belasan calon pembeli. "Pembeli internet biasanya memesan barang jauh lebih banyak dibandingkan dengan calon pembeli yang bertemu langsung," katanya.

Dia membandingkan, jika pembeli biasanya hanya sekitar 5.000 hanger. Sedangkan pesanan lewat internet, biasanya dia memperoleh pesanan hingga 10 ribu hanger. "Kalau lewat internet, saya mematok paling sedikit 1.000 hanger. Pembelian di bawah itu, saya tidak mau," katanya.

Joko hingga kini belum mempercayakan marketing ke karyawannya. Sebab, menurut dia, selain produksi yang bagus, marketing juga menjadi pintu utama pada pendapatan usahanya.

Setiap bulan, ia menghabiskan 15 ton kawat. Padahal setiap 1 kg kawat bisa menghasilkan 3 lusin atau 36 hanger. Karena itu, dalam sebulan, Joko bisa menghasilkan 540 ribu hanger.

Tak heran jika omzet tiap bulan bisa mecapai Rp 250 juta - Rp 300 juta. Soal keuntungan, dia mengatakan, bisa mengantongi 10 persen dari omzet. "Paling tidak, kami bisa mempekerjakan pemuda di sekitar saya," tuturnya. hadi.suprapto@vivanews.com