LAPAN Akui Sulit Saingi Badan Antariksa di Asia

Ketua LAPAN, Thomas Djamaluddin
Ketua LAPAN, Thomas Djamaluddin
Sumber :
  • VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto

VIVA.co.id - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengungkapkan keantariksaan yang dimiliki Indonesia masih jauh dari memuaskan. Terutama untuk menyaingi badan-badan antariksa di Asia.

Seperti diketahui soal antariksa, Indonesia masih berada jauh dibelakang Badan Antariksa Jepang (JAXA), Badan Antariksa China (CSNA), bahkan Oranisasi Antariksa India (ISRO) yang sudah meluncurkan satelit Mangalyaan ke Mars dengan biaya murah.

"Untuk menyaingi tentunya (sulit), karena berbeda, segi dana dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang melimpah," ujar dia di Kantor LAPAN, Rawamangun, Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2015.

Thomas menambahkan, badan-badan antariksa tersebut sudah menyiapkan SDM sejak lama dengan dukungan dana yang melimpah. Sementara Lapan, kata dia, dana dan jumlah SDM-nya sangat terbatas dari kata maksimal.

"Jumlah SDM kita hanya 1.200 dan anggaran Lapan per tahun sekitar Rp700 miliar. Sedangkan yang lainnya, SDM sudah ratusan ribu dan dana melimpah. Padahal minimal anggara keantariksaan itu Rp1 triliun per tahun, agar Indonesia bisa maju," kata dia.

Meski demikian, ia berupaya untuk terus mengembangkan bidang penerbangan dan antariksa, agar Indonesia menjadi negara maju dan mandiri ke depannya. Sebab, dikatakannya, Indonesia berada posisi strategis, sehingga memungkinkan untuk memajukan negara melalui dukungan antariksanya.

"(Dengan) keterbatasan apapun berupaya terus mendorong pembangunan keantariksaan. Indonesia posisinya sangat strategis," ungkap dia.

Thomas menambahkan terus mendorong pengembangan bidang antariksa Indonesia. LAPAN, kata dia, terus mencoba merayu pemerintah untuk mendapatkan anggaran yang sesuai.

"(Melobi) itu sudah dilakukan ke Bappenas dan kementerian terkait, tapi memang menyadari anggaran negara kita sedang terbatas," kata dia.