Petani Sukabumi Curhat ke Mentan soal Bantuan Pompa
Rabu, 26 Agustus 2015 - 18:05 WIB
Sumber :
- VIVAnews/Dyah Ayu Pitaloka
VIVA.co.id
- Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mendapat keluhan yang sangat mengejutkan dari salah satu petani padi pada saat menggelar rapat "Industri Perberasan Nasional" bersama lima ribu petani dan pengusaha penggilingan padi.
Petani yang diketahui bernama Asep Gumilang ini sebelumnya mengaku siap memproduksi 100 ton padi per bulan. Amran yang mendengar itu langsung mengapresiasinya.
"Yakin Bapak mampu produksi sebanyak itu? Kalau benar ini semangat yang harus dicontoh oleh seluruh petani Indonesia," ujar Amran di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu 26 Agustus 2015.
Namun, selang beberapa saat, petani asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu mengaku keberatan karena dia bersama para petani lain di kampungnya harus "bertahan" sendiri dalam bertani. Ini dikarenakan, traktor dan pompa air yang selama ini diberikan pemerintah ternyata belum diterima para petani di Kabupaten Sukabumi.
"Sebenarnya saya enggak butuh bantuan, Pak. Tapi, saya mau bilang kalau alat-alat yang dijanjikan Bapak belum sampai ke kami. Pompa (air) juga enggak ada, di daerah kami ada lahan 400 hektare yang kekeringan," kata Asep kepada Amran.
"Bukannya selama ini bantuan sudah didistribusikan, Pak?" kata Amran.
Mendengar pertanyaan itu, Asep langsung menyanggahnya bahwa bantuan yang selama ini dijanjikan pemerintah tidak pernah didapatinya.
"Dari Dinas Pertanian enggak pernah ada yang turun ke lapangan. Saya petani, enggak ada bantuan juga. Malah, katanya kalau mau ada bantuan pengadaan (traktor dan pompa air) juga harus ditebus," ujar Asep.
Dengan adanya kejadian itu, sontak saja para petani lainnya bersorak dan bertepuk tangan, serta memuji keberanian Asep yang mau berterus terang perihal kondisi di lapangan saat ini.
"Begini, nanti Bapak langsung temui dirjen, tukar nomor handphone. Saya kasih Bapak pompa air empat buah. Selanjutnya saya yang tindak lanjuti," ujar Amran.
Dalam rapat bersama ribuan petani, Amran menyatakan penggilingan padi atau Rice Milling Unit (RMU) mempunyai peran dalam mengolah gabah menjadi beras untuk selanjutnya dijual ke pasar.
Selain itu, beras yang diolah RMU ini nantinya akan diserap Bulog untuk cadangan beras pemerintah dan sebagian oleh ritel modern.
Baca Juga
Petani yang diketahui bernama Asep Gumilang ini sebelumnya mengaku siap memproduksi 100 ton padi per bulan. Amran yang mendengar itu langsung mengapresiasinya.
Baca Juga
"Yakin Bapak mampu produksi sebanyak itu? Kalau benar ini semangat yang harus dicontoh oleh seluruh petani Indonesia," ujar Amran di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu 26 Agustus 2015.
Namun, selang beberapa saat, petani asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu mengaku keberatan karena dia bersama para petani lain di kampungnya harus "bertahan" sendiri dalam bertani. Ini dikarenakan, traktor dan pompa air yang selama ini diberikan pemerintah ternyata belum diterima para petani di Kabupaten Sukabumi.
"Sebenarnya saya enggak butuh bantuan, Pak. Tapi, saya mau bilang kalau alat-alat yang dijanjikan Bapak belum sampai ke kami. Pompa (air) juga enggak ada, di daerah kami ada lahan 400 hektare yang kekeringan," kata Asep kepada Amran.
"Bukannya selama ini bantuan sudah didistribusikan, Pak?" kata Amran.
Mendengar pertanyaan itu, Asep langsung menyanggahnya bahwa bantuan yang selama ini dijanjikan pemerintah tidak pernah didapatinya.
"Dari Dinas Pertanian enggak pernah ada yang turun ke lapangan. Saya petani, enggak ada bantuan juga. Malah, katanya kalau mau ada bantuan pengadaan (traktor dan pompa air) juga harus ditebus," ujar Asep.
Dengan adanya kejadian itu, sontak saja para petani lainnya bersorak dan bertepuk tangan, serta memuji keberanian Asep yang mau berterus terang perihal kondisi di lapangan saat ini.
"Begini, nanti Bapak langsung temui dirjen, tukar nomor handphone. Saya kasih Bapak pompa air empat buah. Selanjutnya saya yang tindak lanjuti," ujar Amran.
Dalam rapat bersama ribuan petani, Amran menyatakan penggilingan padi atau Rice Milling Unit (RMU) mempunyai peran dalam mengolah gabah menjadi beras untuk selanjutnya dijual ke pasar.
Selain itu, beras yang diolah RMU ini nantinya akan diserap Bulog untuk cadangan beras pemerintah dan sebagian oleh ritel modern.
Halaman Selanjutnya