Ekonom: Perbedaan Kurs Rupiah Masih Normal

Ilustrasi mata uang.
Sumber :
  • ANTARA/Rivan Awal Lingga
VIVA.co.id
-  Tingginya nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat justru membuat masyarakat semakin gencar untuk mendatangi tempat penukaran mata uang maupun perbankan.


Dalam beberapa hari terakhir, kurs jual rupiah di beberapa
counter
bank juga mengalami pergerakan yang berbeda dibandingkan kurs yang ditetapkan Bank Indonesia.


Kepala Ekonom BCA, David Sumual menuturkan, perbedaan pergerakan valuta asing yang terjadi dalam sepekan ini masih dinilai normal. Sebab, menurut dia kurs valas di bank komersil sangat berbeda penetapannya dibandingkan kurs yang ditetapkan BI.


"Kurs jual dan beli di bank komersil ditentukan pasar. Jadi ada yang mahal dan murah. Kalo BI itu kan berbeda di tetapkannya," kata David kepada
VIVA.co.id,
Jum'at 28 Agustus 2015.


Menurutnya, penetapan kurs BI, dilansir berdasarkan rata-rata kurs valas dari setiap perbankan yang telah melakukan transaksi sejak pukul 08.00-10.00.


"Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) itu ditetapkan jam 10 pagi. Jadi, BI menetapkan dari rate tiap bank. Angkanya nanti jadi acuan untuk di Jisdor," ujarnya.

Awal Pekan, Hati-Hati Rupiah Terdepresiasi

David menambahkan, penetapan kurs valas yang berbeda-beda ini tidak akan menjadi masalah besar. Sebab menurut dia, perbedaan ini hanyalah sebuah persaingan pasar antara bank dalam menjual belikan dolar.
Dibuka Menguat, IHSG Lanjutkan di Jalur Hijau


Penguatan Rupiah Dihantui Sentimen Negatif Ekonom Global
"Sekarang cuma market saja. Hanya beda tipis. Ini cuma persaingan pasar. Kalo jual belinya makin kecil, ya justru bagus dan efisien. Jadi tidak ambil untung banyak. Ya Mana yang lebih menarik tawarannya," kata David. (ren)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya