Ini Potensi Penyimpangan Jika Krisis Daging Tidak Diatasi

Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id - Pemerintah diminta segera mengatasi krisis daging yang terjadi dalam sepekan terakhir. Jika tidak, dikhawatirkan ada oknum yang melakukan penyimpangan terkait peredaran daging, terutama di pasar-pasar tradisional.

Pemerintah Buka Keran Impor Daging dari Banyak Negara

Ketua Paguyuban Daging Sapi dan Daging Besar (DSDB) Jawa Timur (Jatim), Muthowif mengatakan, krisis daging yang terjadi sepekan terakhir ini karena memang stok sapi lokal berkurang.

"Karena memang sapinya tidak ada," katanya kepada VIVA.co.id, Selasa, 26 Januari 2016.

Strategi Mendag Atasi Calo Daging Sapi

Thowif mengatakan, daging sapi di Surabaya selama ini dipasok dari sejumlah daerah penghasil ternak sapi dari daerah lain di Jatim. Seperti dari Tuban, Bojonegoro, Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Tulungagung. Sementara, di daerah penghasil ternak sapi memang langka.

"Di Surabaya, misalnya, tingkat kebutuhan 200 ekor, sementara di daerah-daerah jumlah sapinya tidak sampai segitu. Akibatnya, harga tinggi," ujarnya menjelaskan.

Pengusaha Daging Permainkan Harga, Mendag Cabut Izin Usaha

Dia memaparkan, stok sapi di daerah-daerah penghasil sapi di Jatim pada Januari ini hanya mampu mengirim sekitar 133 ekor sapi per hari. Jumlah ini menurun dari bulan sebelumnya, Desember 2015, yang bisa memasok sapi ke Surabaya sekitar 155 ekor.

Selain karena langkanya sapi di daerah, dan kelangkaan daging sapi di pasar tradisional bisa terjadi karena permainan pedagang. Sebab, berbeda dengan di Jakarta, pasar daging sapi di Surabaya dikelola secara bebas, tidak ditangani oleh perusahaan suplier rekanan pemerintah setempat.

"Di Surabaya, pedagang beli sapi lalu dipotong sendiri di RPH (rumah pemotongan hewan)," ucap Thowif.

Kelangkaan daging sapi ini, lanjut dia, akan berdampak pada potensi penyimpangan. "Karena sapi di daerah langka, maka pedagang bisa beralih pada daging sapi eks impor. Selain itu, sapi gelonggongan dan sapi betina produktif banyak dipotong,” ujarnya menambahkan.

Mengatasi kelangkaan daging, dia berharap pemerintah, jujur memaparkan data berapa sebenarnya jumlah riil sapi di lapangan. Selama ini pemerintah kerap menyuguhkan target program produksi sapi yang masih belum riil. "Sehingga datanya tidak valid.”

Menurutnya, data program yang disuguhkan pemerintah, kecenderungannya hanya main klaim. Dia memberi contoh Pemprov Jatim yang sering menyatakan bahwa daging sapi lokal di Jatim surplus. "Kalau surplus kenapa sekarang justru langka," ujar dia.

Pemerintah juga diharapkan merealisasikan kebijakannya yang bertekad untuk memangkas daging impor. "Kalau memang sapi impor dilarang di pasaran, ya sudah dilarang saja. Tidak sembunyi-sembunyi seperti sekarang.”

Diketahui, sepekan terakhir ini hampir semua pasar tradisional di negeri ini mengalami krisis pasokan sapi. Akibatnya, harga daging sapi meroket. Di Pasar Wonokromo, Surabaya, misalnya, harga daging sapi melejit hingga di angka Rp110 ribu per kilogram, naik dari harga pekan sebelumnya yang hanya Rp95 ribu per kilogram.

(mus)

 
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya