Warsito Kembangkan Teknologi Antikanker di Polandia

Akun Facebook Warsito P Taruno
Sumber :
  • Facebook/Warsito Purwo Taruno

VIVA.co.id –  Berbulan-bulan tak mendapat kejelasan atas status kepastian riset teknologi antikanker di dalam negeri, akhirnya penemu Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) untuk terapi kanker, Warsito Purwo Taruno, memilih untuk mengembangkan temuannya di Warsawa, Polandia.

Keputusan itu diambil setelah dia mengaku bingung dengan nasib teknologi antikanker yang ia kembangkan di dalam negeri. Diketahui teknologi ECCT dan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) untuk diagnosa kanker yang juga ditemukan Warsito mendapat evaluasi dari dua kementerian yaitu Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sejak akhir tahun lalu. Namun awal Februari 2016, status teknologi tersebut masih belum jelas.

"Warsawa adalah kota kelahiran Maie Curie, fisikawan, penemu Polon dan Radon, satu-satunya wanita yang meraih Nobel dua kali, pionir radio terapi 100 tahun lebih yang lalu. Sekarang, kamu memulai pelatihan ECCT internasional pertama untuk pengobatan kanker dari tempat pertama kali Curie Intitute od Oncology, Warsawa didirikan," tulis Warsito dalam akun Facebooknya, yang menandai pelatihan antikanker di dunia.

Dikonfirmasi tentang hal tersebut, Warsito mengaku memang akhirnya mengambil langkah tersebut dengan alasan Polandia sangat antusias dengan teknologi antikankernya.

"Ini (layanan ECCT di Polandia) memang atas permintaan dari sana. Setelah mengikuti presentasi yang kita berikan di Jerman bulan Juni tahun lalu," kata pria asal Karanganyar, Jawa Tengah, itu kepada VIVA.co.id, Rabu 10 Februari 2016.

Dia mengatakan Polandia meminta untuk pelatihan teknologi antikanker itu ke Warsito melalui Kedubes Polandia di Jakarta. Permintaan itu, dikatakan, sudah disampaikan sejak setahun lalu.

"Tadinya kita kurang begitu merespons, tetapi karena mereka sangat antusias dan kondisi dalam negeri tak kondusif, akhirnya kita lebih fokus ke sana (Polandia)," kata dia.

Namun demikian, keputusan dia dan timnya untuk menggelar pelatihan teknologi antikanker di Polandia, tak lantas meninggalkan harapan keran bagi pengembangan teknologi tersebut di Tanah Air.

Minim Fasilitas Kemo, Sulit Tekan Angka Penderita Kanker

"Riset dan produksi masih sedapat mungkin di dalam negeri, kecuali kalau tak boleh juga," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, evaluasi selama dua bulan, Kemenkes dan Kemenristekdikti menyatakan masih dibutuhkan kajian untuk menentukan status teknologi antikanker temuan Warsito.

Gen Hiu Kandung Senyawa Antikanker

“Hasil evaluasi tim review yang terdiri atas Kemenkes, Kemenristekdikti, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), KPKN (Komite Penanggulangan Kanker Nasional), menunjukkan bahwa ECCT belum bisa disimpulkan keamanan dan manfaatnya,” ujar pelaksana tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Tritarayati, di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu 3 Februari 2016.
 
Maka selanjutnya, Tritarayati meneruskan, penelitian terhadap ECCT akan dilanjutkan sesuai dengan kaidah pengembangan alat kesehatan sesuai standar. Ia menjelaskan, akan dikembangkan melalui pipeline (pipa saluran) pengembangan alat ECCT per jenis kanker, mulai dari pra-klinik sampai dengan klinik, yang sesuai dengan cara uji klinik yang baik (good clinical practice).

penyakit kanker

Tak Perlu Keluar Negeri, Indonesia Kini Punya Terapi Kanker Gunakan Teknologi Tenaga Nuklir

Kanker merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di seluruh dunia. Di 2018 kasus kan meningkat 28 persen di Indonesia. Pada 2021, lebih dari 2 juta kasus

img_title
VIVA.co.id
19 Oktober 2022