Nizar Zahro: Cabut Peraturan Permendag No 125/2015

Petani garam sedang memanen hasilnya di Rembang, beberapa waktu lalu.
Sumber :
  • Antara/Syaiful Bachri

VIVA.co.id – Anggota Komisi V DPR RI Moh Nizar Zahro mengaku prihatin dan sangat geram atas terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan No 125 Tahun 2015 Tentang Ketentuan Impor garam yang tidak mewajibkan importir garam menyerap garam rakyat. Hal ini dinilainya sangat merugikan petani garam Indonesia umumnya khususnya petani garam Madura.

img_title Dokter Zaidul Akbar Ungkap Kebiasaan saat Badan Kurang Fit, Air Mineral Cukup Dicampur Ini

"Kalau petani garam tidak di lindungi pemerintah siapa lagi yang akan melindungi, kalau garam rakyat tidak di beli perusahaan dalam negeri siap lagi yang akan membeli," ujarnya di Senayan, Senin 29 Februari 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mempertanyakan, apa manfaatnya pemerintah punya PT Garam? Dirinya berharap agar Menteri Perdagangan lebih memihak kepada petani garam tidak memanjakan importir garam yang di beri kebebasan seluas-luasnya.

img_title 80 Ton Garam Ditebar di Langit Riau, Bagaimana Kondisi Karhutla Sekarang?

"Ini sangat neolib, hanya satu kata cabut Permendag No 105 Tahun 2015 untuk melindungi petani garam.

Apalagi petani garam yang kemarin melakukan demonstrasi adalah gabungan Asosiasi Petani Garam di Madura telah melakukan unjuk rasa di Kementerian Perdagangan  Rabu, 24 Februari 2016.

img_title Bea Cukai Kemenkeu Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras dan Garam Ilegal Selundupan

Tuntutan demonstrasi yang disampaikan Ketua Aliansi Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (AAPGRI) Jakfar Sodikin mengatakan demonstrasi tersebut digelar untuk menolak Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam, ucap politisi asal Madura ini. (rin)

Personel TNI AU memasukan garam ke dalam pesawat Hercules TNI AU

TNI AU Sebar 42 Ton Garam di Sumsel untuk Atasi Karhutla lewat Hujan Buatan

TNI Angkatan Udara (TNI AU) menyebarkan 42 ton garam di langit Sumatera Selatan, Kamis (29/10) untuk memicu hujan buatan guna mempercepat pemadaman Karhutla

img_title
VIVA.co.id
30 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut