Kisah Cinta Rumit di Balik Pembajakan EgyptAir

Pria pembajak EgyptAir dalam pengawalan polisi Siprus saat ditangkap.
Sumber :
  • REUTERS/Yiannis Kourtoglou

"Mengapa saya harus peduli? Tak ada masalah ia tewas," kata Paraschou mengutip jawaban Mustafa saat itu.

img_title Mesir dan AS Konfirmasi Sinyal Darurat EgyptAir

Perempuan tersebut mengatakan, selama masih berstatus suami istri, mereka tinggal di rumah orangtua Mustafa. Pria tersebut tak pernah bekerja. Dan ia akan memukuli anak mereka saat tak memiliki uang untuk membeli narkoba.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Paraschou, Mustafa adalah pembela PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) yang fanatik. Ia terlibat dalam pembunuhan tiga serdadu Israel, dan pernah dipenjara selama empat tahun di Suriah.

img_title Dua Perusahaan Prancis Dilibatkan Cari Kotak Hitam EgyptAir

Menteri Dalam Negeri Mesir juga membenarkan, Mustafa memiliki catatan kriminal. Dan telah menghabiskan satu tahun masa tahanan pada bulan Maret 2015.

Mustafa, pria berusia 50 tahun itu membajak EgyptAir yang akan melakukan penerbangan ke Mesir. Ia mengancam akan meledakkan pesawat dan mengaku telah mengenakan sabuk yang penuh dengan bom. Pesawat tersebut akhirnya dilarikan ke Siprus. Dalam drama pembajakan tersebut, Mustafa mengatakan ingin bertemu dengan mantan istrinya.

img_title Diduga Korban EgyptAir, Mesir Kumpulkan 23 Kantung Mayat

Pengakuan Mustafa membuat geger. Apalagi kemudian terbukti, ia tak berbahaya dan alat peledak yang ia sebutkan ternyata palsu.

Kotak hitam EgyptAir berhasil diperbaiki dan siap diselidiki.

Data Kotak Hitam EgyptAir Berhasil Diunduh

Asap di ruang kokpit jadi penelitian utama.

img_title
VIVA.co.id
30 Juni 2016
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut