Kisah Cinta Rumit di Balik Pembajakan EgyptAir
- REUTERS/Yiannis Kourtoglou
"Mengapa saya harus peduli? Tak ada masalah ia tewas," kata Paraschou mengutip jawaban Mustafa saat itu.
Perempuan tersebut mengatakan, selama masih berstatus suami istri, mereka tinggal di rumah orangtua Mustafa. Pria tersebut tak pernah bekerja. Dan ia akan memukuli anak mereka saat tak memiliki uang untuk membeli narkoba.
Menurut Paraschou, Mustafa adalah pembela PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) yang fanatik. Ia terlibat dalam pembunuhan tiga serdadu Israel, dan pernah dipenjara selama empat tahun di Suriah.
Menteri Dalam Negeri Mesir juga membenarkan, Mustafa memiliki catatan kriminal. Dan telah menghabiskan satu tahun masa tahanan pada bulan Maret 2015.
Mustafa, pria berusia 50 tahun itu membajak EgyptAir yang akan melakukan penerbangan ke Mesir. Ia mengancam akan meledakkan pesawat dan mengaku telah mengenakan sabuk yang penuh dengan bom. Pesawat tersebut akhirnya dilarikan ke Siprus. Dalam drama pembajakan tersebut, Mustafa mengatakan ingin bertemu dengan mantan istrinya.
Pengakuan Mustafa membuat geger. Apalagi kemudian terbukti, ia tak berbahaya dan alat peledak yang ia sebutkan ternyata palsu.