Ini Sebab Industri Kreatif Daerah Sulit Mendunia
- VIVA.co.id/ Tudji Martudji/ Surabaya
Selain memenuhi pesanan pabrik, kelompoknya juga menjual sendiri produk yang mereka buat di Jember. Setiap produk dibanderol murah, Rp5-50 ribu. Tergantung bentuk dan kerumitan membuatnya.Â
"Tak tentu berapa buah kami buat, tergantung pesanan juga. Tapi, rata-rata 20 sampai 30 buah setiap hari," jelas Suroso.
Industri kreatif rumahan di Jember sebenarnya banyak dan potensial di pasar dunia. Namun, itu kelihatannya tidak didukung oleh cara berpikir para pelaku bagaimana produknya bisa dipasarkan hingga ke luar negeri.Â
Mindset pasar pelaku masih lokal. Hanya beberapa yang berpandangan jauh bagaimana produk mereka diminati negara luar.
Itu juga diakui oleh pendamping kelompok industri kreatif dari Dinas Koperasi dan UMKM Jember, Ahmad Yuhdi.Â
"Kami belum sampai berpikir bagaimana kelompok-kelompok pengrajin tangan ini bisa memasarkan sendiri produknya ke luar negeri," ujarnya kepada VIVA.co.id.
Dia beralasan, pemerintah setempat saat ini baru bergerak pada upaya penguatan di tingkat lokal dulu. Bagaimana pun, kata Yuhdi, pasar dunia tidak akan mau dengan hasil kreativitas rumahan jika produknya jelek.Â
"Selama ini yang mengemas dan memasarkan ke luar negeri ya pabrik. Kelompok-kelompok hanya menyediakan bahannya saja," ucapnya.
Sementara itu, Khofifah mengatakan, sangat disayangkan industri kreatif di negeri ini tidak bisa bersaing di negara luar. Menurutnya, hal itu berhubungan dengan cara pandang dan kemauan pemerintah setempat.Â
"Ke depan pemerintah harus membangun semangat industri kreatif ini agar mampu bersaing di pasar internasional," ujarnya. (one)