Pemerintah Perbanyak Penggunaan Sarang Laba-laba
- VIVA.co.id / Renne Kawilarang
Dia mengatakan, karya anak bangsa seperti ini seharusnya dapat difasilitasi dan dipergunakan pada proyek jalan pemerintah. Dengan demikian, ke depannya dapat disebarkan ke luar negeri. Apalag,i saat ini memasuki pasar tunggal Masyarakat Ekonomi ASEAN, maka inovasi dan karya-karya bangsa sendiri harus ditonjolkan.
Helmy mengatakan, penggunaan konstruksi sarang laba-laba sudah dikenal sejak lama, terutama untuk bangunan bertingkat di daerah gempa, seperti bangunan di Aceh dan Padang, saat terjadi gempa besar bangunan yang menggunakan konstruksi ini masih kokoh berdiri.
"Sayangnya, penggunaan konstruksi ini untuk jalan belum meluas. Padahal, kalau melihat penggunaan sarang laba-laba untuk jalan di Dumai, Riau dan Bojonegoro, Jawa Timur, ternyata mampu memikul beban kendaraan berat di atasnya. Padahal, seperti diketahui tanah di kedua daerah tersebut tergolong tidak stabil,” ujarnya.
Helmy yang disertasi doktornya mengambil sarang laba-laba mengatakan, konstruksi sarang laba-laba 80 persen lebih ekonomis dibandingkan dengan konstruksi beton lainnya, baik itu penggunaan tenaga kerja maupun material. Saat ini, yang dibutuhkan menggandeng mitra untuk "pre-cast", agar pelaksanaan dilapangan lebih cepat.
"Kalau sirip-sirip betonnya sudah ada yang memproduksi masal, maka di lapangan akan lebih mudah, karena tinggal di pasang dan dihampar saja," ujar Helmy.
Konstruksi sarang laba-laba, termasuk dalam pondasi dangkal telah mendapat rekomendasi dari berbagai instansi di antaranya, Ditjen Cipta Karya Kementerian PU, Kementerian Perindustrian, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa (LKPP), Pemkab Simeuleu, Pemkab Solok, Pemprov Sumbar, dan Pemprov Kaltim.