Microsoft Bicara Konsep e-KTP yang Canggih
- ANTARA/Wahyu Putro A
Melalui bantuan teknologi komputasi awan, dikatakan, data kependudukan dalam e-KTP dapat disimpan dengan akurat, sehingga pemerintah dapat mengelola dan mengaksesnya dengan lebih mudah.
Komputasi awan juga ideal dipergunakan untuk aplikasi-aplikasi yang perlu diakses jutaan orang dalam waktu bersamaan. Sebab, komputasi awan memiliki sifat elastis dan dapat menyesuaikan beban pekerjaan yang ada. Sebagai contoh adalah aplikasi Pilkada, Pemilu, Ujian Nasional, dan pelaporan pajak.
“Pada akhirnya, data yang terkonsolidasi menggunakan teknologi komputasi awan memungkinkan Indonesia memiliki pemerintahan berbasis digital. Beragam kebijakan serta bantuan pemerintah pun dapat ditujukan ke sasaran yang tepat,” kata Tony.
Di tempat yang sama, praktisi Teknologi Informasi, Michael Sunggiardi menyatakan, dukungan teknologi yang tepat penting untuk menciptakan pusat data yang terkonsolidasi.
"Dalam penyusunan Rencana Pita Lebar Indonesia 2014-2019, pemerintah membuat perencanaan program unggulan melalui consolidated data center, yang mana seluruh sektor pemerintahan dapat berbagi data dalam satu tempat. Sayangnya, hal ini belum terlaksana sepenuhnya, sehingga pengimplementasian e-government di Indonesia bisa dikatakan masih jalan di tempat," ujar Michael.
Michael memaparkan pemerintah Indonesia, lebih dari dua dekade menyiapkan komponen yang dapat mendukung terciptanya sistem e-government. Mulai dari membenahi regulasi, menyusun rencana pita lebar Indonesia, menguatkan konektivitas nasional, hingga proyek pembangunan jaringan fiber optik di wilayah barat, tengah dan timur Indonesia melalui Proyek Palapa Ring. Namun, usaha pemerintah tersebut masih belum terlalu membuahkan hasil.
Berdasarkan data survei yang dilakukan PBB berjudul ‘e-Government Survey’ pada 2014, posisi Indonesia berada pada peringkat 106 dari 193 negara di dunia dalam hal pengimplementasian e-government.