Fahri Hamzah Hadiri Managing Disruption Amidst Global Change
Menurut Fahri, oleh karena itu perlu diantisipasi dan diberikan jalan supaya tidak bingung, contoh konkrit seperti dalam masalah Uber dan BlueBird kemarin. Menurut dia diantara sebabnya adalah adanya ambiguitas dalam negara dan kabinet, tidak ada persepsi yang sama. Di satu sisi Menkominfo lebih cenderung melihat market tidak boleh di stop, karena itu masa depan kita, yang menghidupkan negara adalah market, dan sebaliknya negara tidak bisa menghidupkan market. Kita sudah tidak punya sumber daya alam untuk membayar rakyat kita, ini Indonesia baru yang SDA nya sudah tidak bisa di eksploitasi terus menerus, yang bisa di eksploitir adalah manusia-manusia dengan kebebasannya menciptakan income, dan income itu dipakai untuk membiayai negara, kata Fahri.
“Kita memerlukan negara baru dengan falsafah baru yang pro pemilihan digital, sehingga betul-betul kita menyaksikan lahirnya realitas baru, yang tidak hanya mengatur kelompok tertentu, tetapi menjadi payung bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.
Moderator acara ini adalah Miftah Nur Sabri Sutan Mangkudun, juga dihadiri oleh Menkominfo Rudiantara, Dirut BEJ Tito Sulistio, Perwakilan Presdir Blue Bird, CEO Uber Alan Jiang, CEO bubu.com Shinta Dhanuwardoyo, dan Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Fithra Faisal. (www.dpr.go.id)