Nilai & Sistem Bernegara yang Baik Harus Dipertahankan

Simposium Mengamankan Pancasila dari ancaman PKI yang digelar di Balai Kartini Jakarta, Kamis 2 Juni 2016.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Jeffry Yanto Sudibyo

VIVA.co.id – Anggota Komisi I DPR RI FPPP Saefullah Tamliha menyatakan terkejut dengan munculnya dua simposium soal kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Yaitu yang berlangsung di Aryaduta, dan Balai Kartini Jakarta, yang keduanya sama-sama digelar oleh jenderal purnawirawan. Padahal, pemerintahan ini tengah berusaha untuk menyeimbangkan kekuatan politik dengan Tiongkok dan Amerika Serikat.

img_title Komisi I DPR: KSAD Tarik Pengamanan Pribadi untuk Hillary Lasut

“Saya terkejut dengan munculnya isu kebangkitan PKI ini di tengah Presiden Jokowi ingin menyeimbangkan kekuatan politik ekonomi ke Tiongkok dan Amerika Serikat. Bahkan ada dua simposium yang sama dan sama-sama digelar oleh jenderal. Jadi, siapa yang bermain?” tanya Saefullah Tamliha dalam diskusi ‘Pancasila dan Arah Isu Kebangkitan PKI” bersama peneliti utama LIPI Siti Zuhro di Gedung DPR RI Jakarta, Rabu 22 Juni 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Padahal, sehebat apapun tokoh reformasi 1998, apakah mereka ini melebihi Bung Karno? Namun, apa-apa yang baik di pemerintahan era dulu, kini malah dihilangkan, katanya.

img_title DPR Tagih Penjelasan KSAL soal Dugaan Pungli Bebaskan Kapal Asing

“Seharusnya, nilai dan sistem bernegara yang baik di masa lalu harus dipertahankan. Terbukti dengan dihilangkannya BP7, P4, kurikulum pendidikan Pancasila, kondisi bangsa ini makin buruk. Bahkan anak-anak kita sudah tidak lagi mengenal Pancasila dan pengamalannya. Untuk itulah pentingnya kita hidupkan kembali Pancasila,” ujarnya.

Siti Zuhro menegaskan jika suka atau tidak suka, Pancasila sudah menjadi ruh dalam berbangsa dan bernegara. Tapi, saat ini dalam berdemokrasi dan berpartai politik sudah mulai meninggalkan Pancasila.

img_title Komisi I DPR Minta Seleksi Direksi LPP RRI Ditunda

“Jadi, kita ini tidak cukup cerdas dari era otoritarianisme Orde Baru. Kita potong KKN, tapi Pancasila harus dilanjutkan. Bukan membubarkan BP7, penataran P4, kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah sampai perguruan tinggi, maka kini kehilangan nilai-nilai Pancasila itu dalam berdemokrasi,” katanya.

Karena itu kata Siti Zuhro, kondisi bangsa saat ini sempoyongan, tertatih-tatih, akibat nilai-nilai Pancasila sudah tidak lagi menjadi perekat ideologi, maka Pancasila sebagai keniscayaan keharusan sebagai ruh berbangsa dan bernegara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jadi, jangan coba-coba mensubordinat Pancasila dalam berbangsa dan bernegara ini, karena akan menimbulkan gejolak,” katanya.

Bahwa Indonesia kini menurut Siti Zuhro, kehilangan keadaban, nilai-nilai musyawarah mufakat harus kembali dijunjung tinggi dalam berdemokrasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut